MUSLIMMENJAWAB.COM – Istilah syiah yang digunakan untuk makna pengikut Ali bin Abi Thalib ra banyak tertulis dalam berbagai sumber-sumber hadis suni dan syiah, dimana didalam kitab hadis suni terdapat 41 kali penggunaan istilah syiah yang bermakna sebagai pengikut Ali bin Abi Thalib as, seperti ibarah hadis : “engkau dan syiahmu mereka adalah para pemenang”, “engkau dan syiahmu akan berada di syurga”, atau ibarah “engkau dan syiahmu adalah orang yang ridha dan diridhai”.
Di beberapa kitab suni lainnya menegaskan makna syiah disini bukan hanya bermakna pengikut tetapi mereka yang berwilayah kepada Ali bin Abi Thalib ra dan ahlulbaitnya.
Maka dari itu para ulama besar ahli Bahasa dari mazhab suni yang bernama Ibn Atsir dalam kitabnya An-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar, mengumpulkan banyak riwayat ke-syiahan dan menyimpulkan bahwa istilah syiah khusus bagi mereka yang menyatakan Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbaitnya sebagai wali/imam.
وَقَدْ غلَب هَذَا الِاسْمُ عَلَى كل مَنْ يزعم أنه يَتَوالى عَلِيًّا وأَهلَ بَيْتِهِ، رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ أَجمعين، حَتَّى صَارَ لَهُمُ اسْمًا خَاصًّا فإِذا قِيلَ: فُلَانٌ مِنَ الشِّيعة عُرِف أَنه مِنْهُمْ
“Kata tersebut (syiah) sudah menjadi tenar dan melekat bagi setiap orang yang menganggap dirinya berwilayah kepada Ali dan ahlulbaitnya ridhwanullah ta’ala alaihim ajma’in, bahkan menjadi kata yang khusus bagi mereka, maka jikalau dikatakan : Seseorang dari golongan syiah maka dikenal bahwa dia itu dari mereka (yang meyakini Ali dan Ahlulbaitnya sebagai Wali).”
(Ibnu Atsir, An-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar: 2/519-520, Dar al-Ihya at-Turats al-Arabi – Beirut)
Dan ibarah ini pun dituliskan oleh Ibn Mandzur didalam Lisan al-Arab
Di zaman Nabi saw, ada beberapa dari kelompok sahabat seperti Salman Farsi, Abu Dzar al-Ghifari, Miqdad dan Ammar Yasir yang dikenal sebagai syiah Ali bin Abi Thalib ra. Muhammad Kurd Ali, seorang ilmuwan suni dan ketua Academy of the Arabic Language in Damascus (wafat tahun 1953) di dalam kitabnya Khiththathu al-Syam menuliskan mengenai hal ini:
عرف جماعة من كبار الصحابة بموالاة علي في عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم مثل سليمان الفارسي القائل: بايعنا رسول الله على النصح للمسلمين والائتمام بعلي بن أبي طالب والموالاة له.
“Telah dikenal sekelompok dari pembesar sahabat dengan loyalitas mereka dalam berwilayah kepada Ali di zaman Rasulullah saw, seperti Salman Al-Farsi, yang mengatakan: kami telah berbaiat kepada Rasulullah saw untuk memberikan nasihat kepada orang-orang muslim, dan bermakmum kepada Ali bin Abi Thalib ra serta berwilayah kepadanya.”
(Muhammad Kurd Ali, Khiththathu al-Syam: 240, Maktab an-Nuri, cetakan ke-3, 1403 H).
ومثل أبي سعيد الخدري الذي يقول: أمر الناس بخمس فعلموا بأربع وتركوا واحدة. ولما سئل عن الأربع قال: الصلاة والزكاة وصوم شهر رمضان والحج قيل: فما الواحد التي ترموها؟ قال: ولاية علي بن أبي طالب قيل له: وإنما لمفروضة معهن قال: هي مفروضة معهن. ومثل أبي ذو الغفاري وعمار بن ياسر وحذيفة بن اليمان وذي الشهادتين خزيمة بن ثابت وأبي أيوب الأنصاري وخالد بن سعيد بن العاص وقيس ابن سعد عبادة وكثير أمثالهم.
Seperti halnya Abi Sa’id al-Khudri yang berkata: Umat telah diperintahkan dengan lima perkara, mereka telah menjalankan yang empat dan meninggalkan yang satu, ketika dia ditanya mengenai perkaya yang empat tersebut, dia menjawab: hal itu adalah sholat, zakat, puasa di bulan ramadhon dan naik haji, lalu ditanya: lalu apa perkara yang satu yang mereka lepaskan? Dia berkata : Wilayah Ali bin Abi Thalib ra, kemudian ditanyakan lagi: apakah (wilayah) wajib seperti wajibnya perkara yang empat tersebut, dia menjawab: hal itu (wilayah Ali) wajib (atas umat) seperti halnya perkara wajib (atas mereka). (Dan mereka yang meyakini wajibnya wilayah Ali) seperti Abu Dzar al-Ghifari, Ammar Yasir, Hudzaifah bin al-Yaman dan pemilik dua kesaksian yakni Khuzaimah bin Tsabit, dan Abi Ayyub al-Anshari, dan Khalid bin Sa’id bin ‘al-Ash, dan Qaish bin Sa’ad bin ‘Ubadah dan banyak yang seperti mereka.
(Muhammad Kurd Ali, Khiththathu al-Syam: 240, Maktab an-Nuri, cetakan ke-3, 1403 H).
Setelah melihat dalil-dalil jelas dari kalangan Ahlu sunah maka jelas pemakaian kata syiah sudah ada dari zaman Nabi Muhammad saw dan sebagian para sahabat sudah dikenal dengan “syiah Ali” dan ini adalah bukti bahwa syiah bukanlah hal baru didalam Islam, melainkan lahir dari tubuh Islam dan langsung mendapatkan legalitas dari Nabi Muhamad saw.











