Para Imam Syiah Diangkat Berdasarkan Nash (Bag. 2)

muslimmenjawab.com – Pada seri-seri sebelumnya telah dijelakan berbagai definisi tentang Syiah dalam literatur-literatur Ahlu Sunnah dan Syiah. Berdasarkan itu, dapat disimpulkan bahwa Syiah adalah kelompok atau mazhab yang meyakini imamah dan kekhalifahan Imam Ali bin Abi Thalib as beserta keturunannya setelah Rasulullah Saw berdasarkan Nash.

Definisi tersebut menggambarkan identitas mazhab Syiah. Salah satu prinsip dalam Akidah syiah adalah Imamah Ahlul bait yang berdsarkan Nash. Perlu diketahui bahwa identias yang tertuang dalam defini-definisi tersebut bukanlah sebuah ajaran yang tidak memiliki dasar. Namun justru sebagai ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Dalam kesempatan lain akan kita bahas satu judul khusus tentang Dalil dan Nash Imamah Imam Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.

Read More

Dalam kesempatan kali ini sebagai gambaran umum dan indikasi, kami akan bawakan sebuah peristiwa sejarah yang menggambarkan Nash imamah dan kekhalifahan Imam Ali bin Abi Thalib.  Peristiwa ini dinamakan Yaum al-Dar, sangat terkenal dan diriwayatkan oleh banyak ahli sejarah dan tafsir. Peristiwa ini berkenaan dengan turunnya Ayat al-Indzar :

وَ أَنْذِرْ عَشِیرَتَكَ الْأَقْرَبِینَ وَاخْفِضْ جَناحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِینَ فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّی بَرِی ءٌ مِمَّا تَعْمَلُون

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.”[1]

Dengan turunnya ayat tersebut, dijelaskan terkait upaya Rasulullah Saw dalam memperkenalkan dan mendakwahkan ajaran Islam kepada keluarga besarnya. Rasulullah Saw menentukan hari khusus dan mengumpulkan keluarga besarnya untuk menyeru ke jalan Islam. Diakhir seruannya tersebut, Rasul Saw mengumumkan bahwa yang kelak akan menjadi Washi (penerima wasiat) dan Khalifahnya (penggantinya) adalah Imam Ali bin Abi Thalib as.

Sebagaimana dinukil oleh Imam al-Baghawi dalam tafsirnya, dalam pertemuan itu Rasulullah Saw berkata:

یا بَنِی عَبْدِالْمُطَّلِبِ إِنِّی قَدْ جِئْتُکُمْ بِخَیرِ الدُّنْیا وَالْآخِرَةِ وَ قَدْ أَمَرَنِی اللَّهُ تَعَالَى أَنْ أَدْعُوَکُمْ اِلَیهِ فَأَیکُمْ یؤَازِرُنِی عَلَى أَمْرِی هَذا و یکُونَ أَخِی و وصی وَ خَلِیفَتِی فِیکُم

“Wahai keturunan Abdul Muthalib, sunnguh aku datang kepada kalian dengan kebaikan dunia dan akhirat. Tuhan memerintahkan kepadaku untuk mengajak kalian kepadaNya. Sekarang siapa diantara kalian yang akan menolongku yang dengan itu akan menjadi saudaraku dan khalifahku (penggantiku) ditengah-tengah kalian?”

Mendapat tawaran dari Rasul Saw, tidak seorangpun yang memberikan jawaban. Imam Ali as yang saat itu berusia paling muda, berkata, “Ya Rasulullah, aku yang akan menolongmu.”

Lalu, Rasul Saw memperkenalkan Imam Ali as dengan berkata :

إِنَّ هَذَا أَخِی وَ وَصِیی وَ خَلِیفَتِی فِیکُمْ فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِیعُوا

“Inilah saudaraku, washiku (penerima wasiatku) dan khalifahku (penggantiku) di tengah-tengah kalian. Dengarkanlah perkataannya dan taatilah perintahnya.”[2]

Thabari dalam kitab tarikhnya[3] juga menukil peristiwa ini sebagaimana berikut :

Jadi, peristiwa Yaum al-Dar ini menunjukkan bahwa penunjukkan Imam Ali sebagai pengganti Rasul Saw oleh Rasulullah Saw sendiri bukanlah hal yang tidak berdasar. Namun sudah ada sejak awal dakwah Rasulullah Saw.


[1] QS. Al-Syu’araa : 214-216

[2] Baghawi, Tafsir al-Baghawi (Maalimu at-Tanzil) jil : 6, hal : 131, cet : Dar at-Thayyibah.

[3] Thabari, Tarikh Thabari, jil : 2, hal 321, cet : Dar al-Maaref

Related posts

Leave a Reply