Sujud di Atas Tanah Dalam Literatur Hadits Syiah

Muslimmenjawab.com – Tidak jauh berbeda dengan apa yang terekam dalam literatur hadits Sunni, kitab-kitab  riwayat  Syiah juga menyebutkan bahwa sujud mesti dilakukan di atas tanah atau sesuatu yang tumbuh di permukaan tanah.

Hanya saja riwayat syiah lebih detil dalam hal ini. Seperti  adanya tambahan yang menyebutkan  syarat bagi tumbuhan tempat sujud. Yaitu tumbuhan tersebut  bukan berupa sesuatu yang dijadikan makanan atau pakaian. lebih dari itu bahkan penyebab dari syarat tersebut juga dijelaskan:

Bacaan Lainnya

عن هشام بن الحكم أنه قال لأبي عبد الله ( عليه السلام ) أخبرني عما يجوز السجود عليه وعما لا يجوز ، قال : السجود لا يجوز إلا على الأرض أو على ما أنبتت الأرض إلا ما اكل أو لبس ، فقال له : جعلت فداك ما العلة في ذلك ؟ قال : لان السجود خضوع لله عز وجل فلا ينبغي أن يكون على ما يؤكل ويلبس ، لان أبناء الدنيا عبيد ما يأكلون ويلبسون ، والساجد في سجوده في عبادة الله عز وجل ، فلا ينبغي أن يضع جبهته في سجوده على معبود أبناء الدنيا الذين اغتروا بغرورها

Dari Hisyam bin Hakam, ia berkata kepada Abi Abdillah AS: beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang boleh dan tidak boleh  dijadikan sebagai tempat sujud, beliau bersabda: sujud tidak boleh kecuali di atas tanah atau sesuatu yang ditumbuhkan oleh tanah, selain yang dimakan dan dijadikan pakian. Hisyam berkata: aku sebagai tebusan mu. Apa sebabnya seperti itu? Imam menjawab: karena sujud merupakan ketundukan kepada Allah SWT, maka ia tidak layak dilakukan pada sesuatu yang dimakan dan dijadikan pakaian. Karena para pecinta dunia merupakan budak-budak apa yang mereka makan dan pakai, sementara orang yang sujud sedang menyembah Allah SWT dalam sujudnya. Maka tidak sepantasnya ia meletakkan keningnya di dalam sujudnya di atas sesembahan para pecinta dunia yang telah tertipu dengan tipuannya.[1]

Setelah menelaah sekian banyak riwayat yang tercantum di dalam kitab-kitab hadits Sunni maupun Syiah; dalam tulisan ini dan tulisan-tulisan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa sujud di atas tanah atau sesuatu yang tumbuh di atas tanah merupakan sunnah nabi dan para sahabat.

Walaupun begitu, masih ada beberapa hal yang perlu diluruskan dalam hal ini. Yang pertama masalah penggunaan tanah Karbala dan ke dua masalah syirik karena sujud di atas tanah.

Untuk masalah penggunaan tanah Karbala oleh kalangan Syiah, perlu dpahami bahwa Sujud di atas tanah karbala hanya bersifat sunnah bukan wajib. Pada dasarnya Hal ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Masruq yang membawa tanah khusus ketika melakukan perjalanan dengan menggunakan perahu.

Ditambah lagi dalam beberapa literatur hadits disebutkan bahwa rasulullah SAWW juga ternyata sangat mengistimewakan tanah Karbala.

Hakim dalam al-Mustadraknya menulis: dari Ummu Fadhl binti Haris…… suatu hari aku datang kepada Rasulullah SAWW, lalu aku meletakkan Husain di pangkuannya. Lalu beliau menoleh kepadanya, aku melihat mata beliau berlinag. Ummu fadhl berkata: aku berkata: ya Nabi Allah, ayah dan ibuku jadi tebusannya apa yang terjadi pada mu? Beliau berkata: Jibril AS mendatangiku, lalu dia memberiku kabar bahwa ummatku akan membunuh anakku ini. Aku berkata: ini? Rasul menjawab: iya. Kemudian dia membawakan tanah merah dari tanah tempat syahidnya untuk ku.[2]

 

Di dalam hadits lainnya masih dalam kitab yang sama disebutkan: dari abdullah bin Wahab bin Zamah: Ummu Salamah memberitahuku bahwa Rasulullah SAWW suatu malam berbaring hendak tidur, kemudian beliau bangkit lagi dalam keadaan bingung. Kemudian ia berbaring dan tidur lagi, lalu ia bangkit lagi dalam keadaan bingung melebihi dari apa yang ku lihat sebelumnya. Kemudian beliau berbaring dan bangun lagi, seraya menciumi tanah merah yang ada di  tangannya. Kemudian aku berkata: tanah apa ini ya Rasulullah? Dia menjawab: Jibril AS memberi ku kabar bahwa ini milik husain yang akan terbunuh di Karbala. Lalu aku berkata kepada Jibril: tunjukkkan kepada ku tanah di mana ia terbunuh itu, dan ini adalah tanah itu.[3]     

Dan masalah kedua, yaitu syirik karena sujud di atas tanah, perlu dicatat bahwa amalan ini adalah “sujud di atas tanah” bukan “sujud untuk atau demi tanah”. Oleh karena itu  tidak dapat dikategorikan sebagai syirik, sebagai mana anggapan sebagian golongan yang kemudian dijadikan justifikasi pemusyrikan Syiah.

Lebih tegas lagi, sujud di atas tanah ini dilakukan dengan niat demi Allah SWT berdasarkan sunnah yang dilakukan oleh nabi Muhammad SAWW sebagai mana telah kita sebutkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya.

Oleh karena itu jika tetap dipaksakan bahwa amalan ini adalah syirik maka sujud di atas sajadah, lantai, kain dan lain-lain sebgainya juga harus dianggap sebagi amalan syirik karena tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lainnya.


[1] Hur al-‘Amuli, muhammad bin hasan bin Ali, Wasail al-Syi’ah, jil: 5, hal: 343, cet: Al al-Bait.

[2] Hakim Naisaburi, Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah, al-Mustadrak Ala al-Shahihain, jil: 3, hal: 194, cet: dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, 1990 M/ 1411 H.

[3] Hakim Naisaburi, Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah, al-Mustadrak Ala al-Shahihain, jil: 4, hal: 440, cet: dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, 1990 Muslim/ 1411 H

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 Komentar

  1. Terima kasih telah menjelaskan sujud di atas tanah dari pandangan Sunah dan Syiah. Sangat mencerahkan. Dari lubuk hati yang paling dalam demi Allah mudah-mudahan para penulis selalu dijaga Allah swt.

  2. Saya melihat penulisannya netral. Bagus, cuman terlalu singkat. Tapi jika seseorang adalah ahli penelitian, hal seperti ini bisa diteliti lebih dalam dan detail. Dan saya berharap website ini menjadi poros penelitian detail tentang suatu masalah. Semoga penelitinya selalu diberi semangat dan kesehatan.