Ulama Tabiin Melaknat Imam Hanafi

Muslim Menjawab – Dengan keras, Islam melarang cacian dan makian kepada sesama bahkan kepada non-muslim sekalipun sebagaimana perkataan Al-Quran. Berbeda dengan pelaknatan, Islam membolehkan hal ini namun tentunya sesuai dengan kriteria dan tuntunan syariat. Sebagai contoh, hampir semua imam mazhab Ahlussunnah membolehkan pelaknatan terhadap Yazid bin Muawiyah. Yazid memiliki kelayakan sebagai orang yang terlaknat disebabkan dalang pembunuhan terhadap Imam Husain As cucu Nabi Muhammad Saw.

Amat disayangkan, sebagian orang menyamakan makna cacian dan pelaknatan sebagai satu kesamaan. Lebih dari itu, kedua kata tersebut bahkan dianggap memiliki muatan negatif. Padahal keduanya berbeda dari sisi makna bahkan hukum.

Read More

Saking sensitifnya kedua kata tersebut, tatkala seseorang memaparkan bukti sejarah kelam seseorang atau sebuah kelompok, maka secara langsung dianggap menghina dan mencelanya. Padahal tidak demikian. Pembaca dapat merujuk tulisan Menyebutkan Fakta Sejarah Tidak Tergolong Caci Maki.

Kali ini penulis kembali menampilkan satu bukti lain pelaknatan yang dilakukan oleh beberapa Tabi’in dan termasuk ulama Ahlussunah. Dalam hal ini, Imam Hanafi dilaknat oleh ulama/tabiin lainnya seperti Hammad bin Salamah dan Syu’bah bin al-Hajjaj. Mereka termasuk ulama besar dan perawi kutubu sittah. Terlepas dari benar atau salahnya pelaknatan ini, yang ingin disampaikan penulis ialah para ulama terdahulu terkhusus tabiin pun melakukan hal ini atas sebuah dasar dan alasan kebolehannya.

Riwayat ini terdapat dalam kitab As-Sunnah milik Abdullah putra Imam Ahmad bin Hambal.

حَدَّثَنِی مُحَمَّدُ بْنُ أَبِی عَتَّابٍ الْأَعْیَنَ، ثنا مَنْصُورُ بْنُ سَلَمَةَ الْخُزَاعِیُّ، قَالَ: سَمِعْتُ حَمَّادَ بْنَ سَلَمَةَ، «یَلْعَنُ أَبَا حَنِیفَةَ»، قَالَ أَبُو سَلَمَةَ: وَکَانَ شُعْبَةُ ” یَلْعَنُ أَبَا حَنِیفَةَ

Mansur bin Salamah berkata; Aku mendengar Hammad bin Salamah melaknat Abu Hanifah, dan berkata Abu Salamah; Begitu pula Syu’bah melaknat Abu Hanifah.

Peneliti kitab ini ‘Doktor Muhammad bin Said bin Salim al-Qahtani‘ berkata bahwa sanadnya adalah shahih.

إسناده صحیح

Assunah; Juz 1; hal. 211; Cet. Dar Ibnu al-Qayim

Berikut ini adalah kedudukan ‘Hammad bin Salamah’ dan ‘Syu’ban bin Al-Hujjaj’

Imam Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala, Kitab yang berkenaan dengan biografi para Sahabat, Tabiin dan Tabiut serta Ulama Islam menjelaskan;

الإِمَامُ، القُدْوَةُ، شَیْخُ الإِسْلاَمِ، أَبُو سَلَمَةَ البَصْرِیُّ

Adalah Imam yang Teladan, Syekh Islam, Abu Salamah al-Basri..

الإِمَامُ، الحَافِظُ، أَمِیْرُ المُؤْمِنِیْنَ فِی الحَدِیْثِ

Syubah bin Al-Hajjaj bin Al-Ward adalah Imam al-Hafiz, Amirul Mukminin dalam Hadis..

Siyar A’lam An-Nubala – Imam Dzahabi; Juz 7; Hal. 444
Siyar A’lam An-Nubala – Imam Dzahabi; Juz 7; Hal. 202

Kembali penulis sampaikan bahwa pelaknatan merupakan perkara yang dibolehkan serta tidak sedikit kalangan yang melakukannya. Namun tentunya tidak serta merta kita melaknat orang lain semau dan sesuka hati. Ada tuntutan dan ajaran syariat yang mengaturnya.

Mazhab Syiah tertuduh sebagai mazhab yang melakukan “caci maki dan pelaknatan” dalam keadaan penuduh menganggap bahwa kedua kata itu memiliki makna yang serupa dan sama-sama negatif. Namun telah dijelaskan di banyak seri tulisan mengenai syubhat/permasalahan ini. Semoga para pembaca terkhusus umat islam lebih bijak lagi dalam menanggapi berbagai persoalan serta mengkaji lebih dari berbagai sudut pandang.

Related posts

Leave a Reply