MUSLIMMENJAWAB.COM – Pada seri sebelumnya telah banyak dibahas tentang Rafidhah dan sudah disebutkan juga bahwa istilah rafidhah bukanlah istilah syar’i tapi lebih tepat jika dipandang sebagai suatu istilah politik karena tidak bersumber dari al-Quran maupun hadits.
Pada seri kali ini akan dibahas seputar cacian dan cercaan terhadap sahabat yang santer disebutkan oleh berbagai kalangan dari pembenci sebagai karakter dan ciri Rafidhah dan mazhab Syiah.
Tidak tertutup kemungkinan bahwa tuduhan ini adalah hasil dari kesimpulan yang diambil dari beberapa hadits dhaif yang memuat tentang ciri dari Rafidhah. Di mana di dalamnya disebutkan bahwa Rafidhah adalah mereka yang membenci Abu bakar dan umar secara khusus atau sahabat secara umum.
Namun terlepas dari hadits dhaif yang ada, apakah benar Syiah adalah kelompok yang mencaci serta mencerca sahabat nabi sebagaimana dituduhkan?
Jawabannya, tentu saja tidak. karena apa yang dilakukan oleh ulama serta pengikut Syiah bukanlah mencaci serta mencerca para sahabat, Tapi menyebutkan dan menjelaskan apa yang tertera di dalam teks-teks agama sebagai bahan kajian. Sebagaimana al-Quran juga melakukan hal yang sama dengan menyebutkan kekurangan atau kesalahan sahabat:
“Apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan meninggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan itu, dan Allah sebaik-baik pemberi rezeki” (al-Jumuah/ 11)
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan, lalu kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (al-Hujarat/ 5)
Di dalam hadits juga banyak disebutkan kesalahan atau kekurangan sahabat. salah satunya Seperti hadits yang menyatakan bahwa putri Nabi SAWW Fathimah tidak mau menemui Abu Bakar sampai wafat. terlepas dari siapa yang harus disalahkan dalam hal ini.
…. Maka Fathimah putri Rasulullah SAWW marah lalu ia menjauhi Abu Bakar, dan hal ini berlanjut sampai ia wafat.[1]
Oleh karena itu jika kemudian orang-orang Syiah mengkritisi sahabat dengan menyebutkan kekurangan atau kesalahan mereka, hal itu bukan berupa cacian. Sebab mereka hanya menyebutkan apa yang sudah tertera di dalam literatur Islam. Dan jika hal ini tetap dianggap salah dan diasumsikan sebagai cacian terhadap mereka lalu dijadikan sebagai tolok ukur kesesatan, maka yang seharusnya terlebih dahulu disalahkan adalah al-Quran dan hadits yang memuat fakta-fakta ini. Dan tentu saja tidak ada yang siap menerima konsekuensi ini.
[1] Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail, al-Jami’ al-Shahih, jil:2, hal: 386, cet: al-Mathbah al-Salafiah, Qairo.








