Apakah Keyakinan Akan kemaksuman Para Imam Adalah Guluw?

  • Whatsapp

MUSLIMMENJAWAB.COM – Pada tulisan sebelumnya telah banyak ulasan yang diutarakan seputar guluw dan gulat serta sanggahan terhadapnya. Pada tulisan kali ini akan dipaparkan kajian lainnya yang berkaitan dengan keyakinan akan kemaksuman para imam yang dianggap sebagai alasan bagi penamaan Syiah sebagai gulat. Dalam hal ini Doktor Kamil Mushthafa menyebutkan hal itu di dalam kitabnya pada fashal guluw dan gulat:

“maka Hisyam membangun keyakinan kemaksuman lalu menyandingkannya dengan imamah, setelah itu ia menempatkan mereka pada posisi di mana mampu menghadirkan kebenaran tanpa membutuhkan wahyu. Seperti inilah muncul pemikiran kemaksuman dari Hisyam setelah kewafatan Ja’far al-Shadiq.[1]

Bacaan Lainnya

Berbeda dengan tuduhan sebelumnya; di mana Syiah menolak keyakinan para gulat yang disemtkan padanya, keyakinan akan kemaksuman para imam ini memang diterima oleh Syiah Karena ditopang oleh berbagai argumentasi.

Pada tulisan sebelumnya telah ada disebutkan Dalil yang yang menunjukkan akan hal itu seperti hadits tsaqalain. Dan pada tulisan kali ini akan disebutkan dalil lainnya yang menyebutkan bahwa Allah berkehendak untuk mensucikan ahlulbait sesuci-sucinya, yang tentu saja hal ini memiliki konsekuensi kemaksuman . Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim:

“ummul mukminin Aisyah berkata: Rasulullah SAWW keluar di waktu subuh dan beliau mengenakan jubah yang disulam dari bulu hitam. Lalu Hasan bin Ali datang dan beliau memasukkannya ke bawah jubahnya, Husain datang dan masuk bersamanya, Fathimah datang lalu beliau memasukkanya kemudian Ali datang dan memasukkanya. Lantas ia berkata: Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan menyucikan kamu sesuci-sucinya.[2]

Hadits ini dan hadits yang ada pada tulisan sebelumnya dapat membuktikan bahwa kemaksuman para imam bukanlah keyakiana tanpa dasar yang dengan itu dijadikan tolok ukur penamaan Syiah sebagai gulat. Sebab yang menjadi dasar untuk mengukur sesuatu melampaui batas atau tidak adalah dalil berupa al-Quran maupun hadits. Dan dalam hal ini ditemukan dalil yang mendukung keyakinan Syiah.

Atas dasar ini tidaklah baik jika keyakinan akan kemaksuman para imam dijadikan alasan untuk memasukkan Syiah kedalam kelompok gulat.

Lebih menarik lagi, ternyata keyakinan akan kemaksuman ini tidak hanya dimiliki oleh Syiah, karena Sunni juga memiliki keyakinan yang sama terhadap Abu Bakar, Umar dan Utsman. Sebgaimana diungkapkan oleh taftazani:

“Pengikut mazhab kami berargumen akan tidak wajibnya kemaksuman pada keimamahan Abu Bakar, Umar dan Utsman RA. Bersamaan dengan ijma’ akan tidak wajibnya kemaksuman, mereka (sebenarnya) maksum dengan pengertian, semenjak mereka beriman mereka memiliki kemampuan (malakah) menjuhi kemaksiatan sekalipun hal itu memungkinkan bagi mereka.[3]

Dari perkataan Taftazani di atas dapat dipahami bahwa Sunni meyakini kemungkinan terjadinya kemamksuman pada selain nabi, walaupun tidak meyakini kewajiban hal itu.

Oleh karena itu tidaklah adil jika Syiah dimasukkan kedalam kelompok gulat dengan meyakini kemaksuman para imamnya, tapi pada saat yang sama mereka juga memiliki keyakinan yang sama. Walaupun hanya pada tahap kemungkinan.


[1] Musthafa, Kamil, al-Silah Baina al-Tashawwuf wa al-Tasyayyu’, hal: 151, cet: Dar Andalus.

[2] Muslim al-Naisaburi, Muslim bin Hajjaj, jil: 7, hal: 130.

[3] Taftazani, Sa’duddin Masud bin Umar, Syarh al-Maqasid Fi Ilm al-Kalam, jil: 5, hal: 249, cet: Alam al-Kitab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.