Muslimmenjawab.com – Al-Quran bukan lah kitab atau buku sejarah yang berfungsi sebagai pencatat kejadian di masa lampau. Pun demikian kitab suci ini memuat banyak kisah para nabi, orang saleh, musuh para nabi dan orang jahat. Singkatnya di dalam kitab yang agung ini kita dapat menemukan sejarah ummat terdahulu yang tentu saja dapat dijadikan sebagai bahan renungan pelajaran dalam meniti kehidupan saat ini.
Jika Al-Quran bukan merupakan kitab sejarah, tapi justeru sebuah kitab yang memiliki tugas pemberi hidayah, ” . Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Al-Baqarah/2) lantas apa perbedaan sejarah atau cerita yang dimuat oleh Al-Quran dengan buku sejarah atau cerita lainnya? Sehingga Al-Quran dengan segudang kisah yang dipaparkan di dalamnya tidak identik dengan buku sejarah.
Sebenarnya ada banyak ciri khas tersendiri dan karakter khusus yang dimiliki Al-Quran dalam hal menyampaikan cerita sehingga menjadikannya berbeda dengan yang lainnya. Pada tulisan singkat kali ini kita akan menjelaskan salah satunya saja, iaitu pemilahan dalam kisah.
Pemilahan dalam memuat kisah merupakan ciri khas Al-Quran. Dengan demikian kisah yang dimuat hanya bagian yang memiliki pelajaran (ibrah) bagi pembaca atau pendengarnya, bukan semua hal yang berkaitan dengan sebuah cerita sekalipun tidak memiliki ibrah sama sekali.
Atas dasar ini hal-hal yang tidak penting ataupun tidak memiliki nilai pembelajaran (ibrah) dengan sendirinya dilupakan oleh Al-Quran. Oleh karena itu didalam Al-Quran kadang kita melihat kisah tapi tidak disebutkan nama pelakunya, ” Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu” (Yasiin/20), atau tidak dimuat tanggal kejadiannya, bahkan sebagian kisahnya hanya memuat sepenggal dari perjalanan hidup dari tokoh yang diceritakan. Ini tidak lain dikarenakan misi dari kisah Al-Quran ada pada ibrahnya dan bukan pada sejarah sebagi sebuah sejarah.
Didalam kitab asynai ba Ma’arif e Quran disebutkan:
Salah satu metode Al-Quran dalam menyampaikan pesan-pesannya adalah, fakta yang dimuat telah dipilih sesuai dengan urgensitasnya, sehingga kemurnian ibrah atau pelajaran yang ingin disampaikan tetap terjaga. Dengan kata lainnya, pemilihan bagian tertentu dalam kisah-kisah Al-Quran tanpa melihat pada sisi sastra dan seninya, lebih karna mengedepankan bagian serta episode yang lebih berpengaruh (tehadap pembaca). Dan tidak disebutkannya bagian-bagian yang tidak terlalu penting bertujuan untuk lebih menjaga pengaruh kisah tadi dalam mengokohkan aqidah dan memperbaiki tindak tanduk pembacanya.”(asynai ba Ma’arif e Quran tafsir e maudu’i e 1, hal:100, cet: sazman e hauzeha wa madaris e Ilmi e kharij az kesywar, Qom, 1391 HS)
Bagian terakhir dari kutipan di atas ingin menyampaikan bahwa terkadang menyebutkan hal-hal yang tidak penting dalam sebuah kisah dapat mengalihkan perhatian pembaca dari tujuan awalnya, iaitu mengambil ibrah dari sebuah kisah. Itulah sebabnya Alquran hanya menyebutkan bagian pentingnya saja dan banyak meninggalkan detil-detil yang tidak memiliki urgensitas.
Oleh: Muhammad Alfadani







