Abdullah bin Saba di Mata Syekh Muhammad Jawad Mughniyah

muhammad jawad mughniyah

MUSLIMMENJAWAB.COM – Persoalan Syiah yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Saba bukanlah sekali atau dua kali terjadi, namun hal ini telah menjadi pemahaman yang diwariskan sejak lama. Meskipun berbagai tulisan dan jawaban terkait masalah ini telah dikemukakan namun hal tersebut seolah tidak bisa padam dan terus menyala hingga sekarang.

Dari seri-seri sebelumnya telah kita ketahui bahwa berdasarkan riwayat yang muncul dalam hadis-hadis Syiah terkait sosok Abdullah bin Saba ataupun perkataan dari para ulama Rijal Syiah mengambarkan ia hanyalah seorang yang mendapatkan pelaknatan dari imam dan diyakini sebagai sosok yang berlebihan (ghuluw).

Read More

Adapun dalam kitab-kitab Sunni, semuanya bermuara pada sosok perawi yang bernama Saif bin Umar at-Tamimi, sebagaimana hal ini telah kami bahas sebelumnya. Begitu pula yang digambarkan oleh Syekh Muhammad Jawad Mughniyah dalam mukadimah kitab “Abdullah bin Saba Wa Asaathiir Ukhra” yang ditulis oleh Sayid Murtadha Askari.

Ia menuliskan:

… Ada seorang bernama Saif bin Umar at-Tamimi yang meninggal pada abad ke-2 Hijriyah, telah menulis dua kitab; pertama`”Al-Futuh war Riddah” dan kedua “Al-Jamal wa Masiir A’isyah wa Ali” dan ia menjejali dua kitab tersebut dengan hal-hal berikut:

  1. Pembuatan kejadian-kejadian yang tidak memiliki kebenaran dan dasar.
  2. Distorsi kejadian-kejadian yang tetap dan memalsukannya sedemikian rupa sehingga membuat yang positif menjadi negatif dan negatif menjadi positif.

Saif telah membuat-buat sosok beberapa sahabat Rasulullah SAW yang tidak memiliki keberadaan…

Dari mereka yang telah dibuat-buat sosoknya, namanya serta perkara-perkara yang berkaitan dengannya oleh Saif adalah sosok dongeng ini, yaitu Abdullah bin Saba…[1]

Pernyataan Syekh ini bukan hanya sebatas dakwaan semata namun sesuai dengan penilaian para ulama hadis Sunni sendiri perihal sosok Saif bin Umar at-Tamimi yang menghukuminya dengan lemah, yang ditinggalkan (periwayatannya) dan zindik, seperti yang telah dijelaskan pada seri-seri sebelumnya, atau seperti yang tertera pada kitab Sayid Murtadha Askari sebagai berikut.

Abdullah bin Saba Wa Asaathiir Ukhra, jil: 1, hal: 75-77.

[1] Abdullah bin Saba Wa Asaathiir Ukhra, jil: 1, hal: 11-12.

Related posts

Leave a Reply