Shahih Bukhari dan Mut’ah (Bagian 1)

  • Whatsapp
Shahih Bukhari dan Mut'ah

MUSLIMMENJAWAB.COM – Shahih Bukhari adalah kitab yang berisi kumpulan hadis yang telah diseleksi secara ketat oleh penulisnya yaitu Imam Bukhari (194 – 256 H). Kitab ini diyakini sebagai salah satu sumber penting di kalangan madzhab Ahlu Sunnah wal Jama’ah. kali ini kita akan mencoba melihat bagaimana redaksi persoalan mut’ah dalam kitab tersebut.

Adanya perbedaan redaksi tentang pengharaman mut’ah oleh Khalifah Umar

Bacaan Lainnya

Matan atau penulisan pada Shahih Bukhari cetakan Bait al-Afkar ad-Dauliyah, Riyadh dan Dar al-Fikr, Beirut tahun 1401 H / 1981 M:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عِمْرَانَ أَبِي بَكْرٍ، حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: ” أُنْزِلَتْ آيَةُ المُتْعَةِ فِي كِتَابِ اللَّهِ، فَفَعَلْنَاهَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَمْ يُنْزَلْ قُرْآنٌ يُحَرِّمُهُ، وَلَمْ يَنْهَ عَنْهَا حَتَّى مَاتَ، قَالَ: رَجُلٌ بِرَأْيِهِ مَا شَاءَ قَالَ مُحَمَّدٌ يُقَالُ إنَّهُ عُمًر

Telah bercerita kepada kami Musaddad telah bercerita kepada kami Yahya dari Imran, Abu bakr telah bercerita kepada kami Abu Raja’ dari Imran bin Hushain RA, ia berkata: “Diturunkan ayat mut’ah dalam Kitab Allah, dan kami mengerjakannya bersama Rasulullah SAW dan tidak ada (ayat) Al-Qur’an turun mengharamkannya dan (Nabi SAW) tidak melarangnya hingga beliau wafat, (kemudian muncul) seorang lelaki berkata (mengambil keputusan) sesuai pendapat yang dikehendakinya”. Muhammad berkata: “Dikatakan bahwa seorang lelaki itu adalah Umar”.

(Shahih Bukhari, hal: 854, Bait al-Afkar ad-Dauliyah, Riyadh)
(Shahih Bukhari, jil: 3, hal 158, Dar al-Fikr, Beirut)

Dalam cetakan-cetakan yang lain keterangan –Muhammad berkata: “Dikatakan bahwa seorang lelaki itu adalah Umar.”– tidak tercantum.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عِمْرَانَ أَبِي بَكْرٍ، حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: ” أُنْزِلَتْ آيَةُ المُتْعَةِ فِي كِتَابِ اللَّهِ، فَفَعَلْنَاهَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَمْ يُنْزَلْ قُرْآنٌ يُحَرِّمُهُ، وَلَمْ يَنْهَ عَنْهَا حَتَّى مَاتَ، قَالَ: رَجُلٌ بِرَأْيِهِ مَا شَاءَ

Telah bercerita kepada kami Musaddad telah bercerita kepada kami Yahya dari Imran, Abu bakr telah bercerita kepada kami Abu Raja’ dari Imran bin Hushain RA, ia berkata: “Diturunkan ayat mut’ah dalam Kitab Allah, dan kami mengerjakannya bersama Rasulullah SAW dan tidak ada (ayat) Al-Qur’an turun mengharamkannya dan (Nabi SAW) tidak melarangnya hingga beliau wafat, (kemudian muncul) seorang lelaki berkata (mengambil keputusan) sesuai pendapat yang dikehendakinya”.

(Shahih Bukhari, jil: 6, hal: 27, al-Amiriya, Mesir)
(al-Jami as-Shahih, jil: 3, hal: 200, al-Maktabah as-Salafiyyah, Kairo)
(Shahih Bukhari, Dar al-Fikr, Beirut)

Pengakuan ulama Sunni bahwa keterangan tersebut ada dalam kitab Bukhari:

  • Muhammad bin Futuh al-Humaydi (420 – 488 H)

Dalam kitab Al-Jamʻ bayna al-Shahihayn, ia menulis:

الثَّانِي: عَن أبي رَجَاء العطاردي عَن عمرَان بن حُصَيْن قَالَ: أنزلت آيَة الْمُتْعَة فِي كتاب الله، ففعلناها مَعَ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم، وَلم ينزل قرآنٌ يحرمه، وَلم ينْه عَنْهَا حَتَّى مَاتَ. قَالَ رجلٌ بِرَأْيهِ مَا شَاءَ. قَالَ البُخَارِيّ: يُقَال: إِنَّه عمر. وَفِي رِوَايَة عَنهُ لمُسلم: نزلت آيَة الْمُتْعَة فِي كتاب الله – يَعْنِي مُتْعَة الْحَج – وَلم ينْه عَنْهَا حَتَّى مَاتَ

Yang kedua: Dari Abu Raja’ al-Athari dari Imran bin Hushain berkata: “Diturunkan ayat mut’ah dalam Kitab Allah, dan kami mengerjakannya bersama Rasulullah SAW dan tidak ada (ayat) Al-Qur’an turun mengharamkannya dan (Nabi SAW) tidak melarangnya hingga beliau wafat, (kemudian muncul) seorang lelaki berkata (mengambil keputusan) sesuai pendapat yang dikehendakinya”. Bukhari berkata: “Dikatakan bahwa orang tersebut adalah Umar”. Dan dalam sebuah riwayat darinya dalam Muslim: “Diturunkan ayat mut’ah dalam Kitab Allah -yakni haji tamattu’- dan (Nabi SAW) tidak melarangnya hingga beliau wafat”.

(Al-Jamʻ bayna al-Shahihayn, jil: 1 hal: 349 no: 548, Dar Ibnu Hazm, Beirut)
  • Al-Kermani

Secara jelas Al-Kermani menjelaskan dalam syarahnya dan mengutip keterangan: Bukhari berkata: “Dikatakan bahwa seorang lelaki itu adalah Umar.”

(Al-Bukhari Bi Syarh Al-Kermani, jil: 17, hal: 30-31, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, Beirut)
  • Ibnu al-Atsir al-Jazari

Begitu pula dengan Ibnu Al-Atsir dalam kitabnya menyebutkan: Bukhari berkata: “Dikatakan bahwa seorang lelaki itu adalah Umar.”

(Jami al-Ushul Fi Ahadis ar-Rasul, jil: 3, hal: 116)
  • Ibnu Katsir

Ibnu Katsir juga melihat bahwa Imam Bukhari menjelaskan orang yang bersangkutan dalam hadis tersebut adalah Umar.

(Tafsir al-Qur’an al-Aqdhim, jil: 1, hal: 399, Dar al-Kutub al-Ilmiya, Beirut)
  • Ibnu Hajar al-Asqalani

Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan:

وَحَكَى الْحُمَيْدِيُّ أَنَّهُ وَقَعَ فِي الْبُخَارِيِّ فِي رِوَايَةِ أَبِي رَجَاءٍ عَنْ عِمْرَانَ قَالَ الْبُخَارِيُّ يُقَالُ إِنَّهُ عُمَرُ أَيِ الرَّجُلُ الَّذِي عَنَاهُ عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ وَلَمْ أَرَ هَذَا فِي شَيْءٍ مِنَ الطُّرُقِ الَّتِي اتَّصَلَتْ لَنَا مِنَ الْبُخَارِيِّ لَكِنْ نَقَلَهُ الْإِسْمَاعِيلِيُّ عَنِ الْبُخَارِيِّ كَذَلِكَ فَهُوَ عُمْدَةُ الْحُمَيْدِيِّ فِي ذَلِكَ وَبِهَذَا جَزَمَ الْقُرْطُبِيُّ وَالنَّوَوِيُّ وَغَيْرُهُمَا وَكَأَنَّ الْبُخَارِيَّ أَشَارَ بِذَلِكَ

Dan al-Humaydi menjelaskan bahwa pada (kitab) Bukhari dalam sebuah riwayat dari Abu Raja’ dari Imran, Imam Bukhari berkata: “Disebutkan bahwa orang tersebut adalah Umar”, yakni seseorang dimaksud oleh Imran bin Hushain dan saya tidak melihat hal ini dari jalur yang sampai kepada kami dari Bukhari, namun al-Ismaili menukilnya dari Bukhari begitu juga (versi al-Ismaili) adalah pegangan al-Humaydi dan dengan ini al-Qurthubi, an-Nawawi serta yang lainnya menyatakan bahwa sepertinya Bukhari menunjukkan pada hal itu.

(Fath al-Bari, jil: 3, hal: 433, Dar al-Ma”rifah, Beirut)
  • Badruddin Al-Aini

Ia mencatat dalam kitabnya:

وَحكى الْحميدِي أَنه وَقع فِي البُخَارِيّ فِي رِوَايَة أبي رَجَاء عَن عمرَان، قَالَ البُخَارِيّ: يُقَال: إِنَّه عمر، أَي الرجل الَّذِي عناه عمرَان بن حُصَيْن قيل: الأولى أَن يُفَسر بهَا عمر، فَإِنَّهُ أول من نهى عَنْهَا، وَأما من نهي بعده فِي ذَلِك فَهُوَ تَابع لَهُ

Dan al-Humaydi menjelaskan bahwa pada (kitab) Bukhari dalam sebuah riwayat dari Abu Raja’ dari Imran, Imam Bukhari berkata: “Disebutkan bahwa orang tersebut adalah Umar”, yakni seseorang dimaksud oleh Imran bin Hushain. Dikatakan: yang pertama ditafsirkan bahwa orang tersebut adalah Umar, sebab dia adalah orang pertama yang melarang mut’ah dan adapun yang setelahnya melarang hal tersebut adalah orang yang mengikutinya (Umar).

(Umdah al-Qari, jil: 9, hal: 205, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, Beirut)

Bersambung..

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

15 Komentar

  1. Saya baru tahu bahwa di dalam Bukhari yang konon kitab tersahih setelah Al-Quran meriwayatkan kehalalan nikah mutah hingga periode Sayidina Umar RA. Lalu kenapa penyesatan dan kambing hitam diarahkan kepada Syiah?

  2. Tinggal di verifikasi kebenarannya dan merujuk kepada rujukan yang dirujuk penulis.

    Jangan langsung menghukumi yang ada sendiri blm validisasi karena semua perkataan dan perbuatan akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah swt kelak.

    Bahkan kebencian anda pun akan dipertanggung jawabkan kelak.

  3. atine wes atos bib. Agen zionis atine mboten saged nampi keleresan. keleresan kangge piyambakipun sedaya inggih punika arta

  4. Aneh…Islam tidak mungkin menghalalkan perzinahan gonta ganti pasangan. Sehari sama Jeny dan Besok sama Andini…Menjijikan…Hanya pngikut budak nafsu yang menghalalkan hal seperti ini

  5. Bodoh kok dipelihara…Dungu kok dirawat…Baca dulu kemudian pikirkan jangan jadi buih terus hidup lo Wahai Hamba Allah paling gosong!!!

  6. Tidak perlu di cek Rafidhah itu penganjur dusta yaitu Taqiyah….MAU BERDISKUSI DENGAN PENGANJUR KEBOHONGAN TAQIYAH SAMA DENGAN BERTEMAN DENGAN IBLIS..

  7. Ya, itu terserah anda.
    Jika mau cari kebenaran maka harus objektif jangan fanatik dengan apa yg sudah dipahami lebih dulu, sebab belum tentu itu benar.
    Pencari kebenaran selalu bersikap terbuka tidak langsung terima dan juga tidak langsung menolak, tapi dipelajari dan direnungkan terlebih dahulu karena disitulah proses perjalanan menemukan kebenaran.
    Intinya jangan pernah merasa cukup dengan apa yg dimiliki, sebab ilmu itu luas dan kebenaran itu harus senantiasa dicari.