Shahih Bukhari dan Mut’ah (Bagian 2)

  • Whatsapp
bukhari mut'ah

MUSLIMMENJAWAB.COM – Shahih Bukhari merupakan salah satu kitab hadis yang paling menonjol di kalangan madzhab Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Keutamaan tersebut tak jauh dari keuletan penyusunnya, Imam al-Hafidz Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari (194 – 256 H) dalam memilah hadis-hadis Shahih. Kali ini kita akan melihat redaksi nikah mut’ah yang tertera dalam kitab tersebut.

Perubahan redaksi riwayat dari Abdullah bin Mas’ud terkait nikah mut’ah

Bacaan Lainnya

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ، حَدَّثَنَا خَالِدٌ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ قَيْسٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: ” كُنَّا نَغْزُو مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَيْسَ مَعَنَا نِسَاءٌ، فَقُلْنَا: أَلاَ نَخْتَصِي؟ فَنَهَانَا عَنْ ذَلِكَ، فَرَخَّصَ لَنَا بَعْدَ ذَلِكَ أَنْ نَتَزَوَّجَ المَرْأَةَ بِالثَّوْبِ ” ثُمَّ قَرَأَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ} المائدة: 87

4615 – Telah bercerita kepada kami Amr bin Aun, telah bercerita kepada kami Khalid dari Ismail dari Qais dari Abdullah (bin Mas’ud), berkata: “Kami sedang berperang bersama Nabi SAW dan tidak ada perempuan bersama kami. Kami berkata: ‘Tidak haruskah kami berkebiri?’ Beliau melarang kami dari hal tersebut dan setelah itu mengijinkan kami untuk menikahi perempuan dengan pakaian.” Kemudian ia membaca: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu.” (QS: al-Maidah: 87)

(Al-Jami al-Shahih al-Mukhtashar, Muhammad bin Ismail al-Bukhari, jil: 4, hal: 224, no: 4615, Dar Ibnu Katsir, Beirut, 1407 H / 1987 M)

Riwayat diatas sejak lama telah banyak dinukil dalam kiab-kitab lain, namun sedikit berbeda dengan redaksi diatas dimana hal ini menunjukkan adanya perubahan dalam redaksi kitab bukhari dari waktu ke waktu.

Beberapa bukti yang menunjukkan adanya penggalan yang hilang dari riwayat di atas

  • Muhammad bin Futuh al-Humaydi (420 – 488 H)

 Al-Humaydi dalam kitabnya Al-Jamʻ bayna al-Shahihayn mencatat riwayat dari Abdullah bin Mas’ud -yang dinukil Shahih Bukhari dan Shahih Muslim- dengan adanya perbedaan, dimana dalam penukilannya terdapat penggalan “إِلَى أجلٍ” yang berarti “hingga masa tertentu”.

الثَّالِث وَالثَّلَاثُونَ: عَن قيس عَنهُ قَالَ: كُنَّا نغزو مَعَ النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم لَيْسَ مَعنا نساءٌ، فَقُلْنَا: أَلا نستخصي؟ فنهانا عَن ذَلِك، ثمَّ رخص لنا أَن ننكح الْمَرْأَة بِالثَّوْبِ إِلَى أجلٍ، ثمَّ قَرَأَ عبد الله: {يَا أَيهَا الَّذين آمنُوا لَا تحرموا طَيّبَات مَا أحل الله لكم} الْآيَة

257 – Ke-33: Dari Qais darinya (Abdullahbin Mas’ud), berkata: “Kami sedang berperang bersama Nabi SAW dan tidak ada perempuan bersama kami. Kami berkata: ‘Tidak haruskah kami berkebiri?’ Beliau melarang kami dari hal tersebut dan setelah itu mengijinkan kami untuk menikahi perempuan dengan pakaian hingga masa tertentu. Kemudian Abdullah membaca: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu.” (QS: al-Maidah: 87)

(Al-Jamʻ bayna al-Shahihayn, jil: 1, hal: 222, Dar Ibnu Hazm, Beirut, 1423 H / 2002 M)
  • Ibnu Qayyim al-Jauziyyah

Ibnu Qayyim dalam dua kitabnya; Ighatsatul Lahfan dan Zad al-Maad, menukil riwayat di atas dimana penggalan إِلَى أجلٍ yang berarti “hingga masa tertentu” juga tercantum.

الثالث: أن نكاح المتعة مختلف فيه بين الصحابة، فأباحه ابن عباس، وإن قيل: إنه رجع عنه، وأباحه عبد الله بن مسعود. ففى “الصحيحين” عنه قال: “كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى اللهُ تعالى عليه وآله وسلم، وَلَيْسَ لَنَا نِسَاءٌ، فَقُلْنَا: أَلا نَخْتَصِى؟ فَنَهانَا عَنْ ذلِكَ، ثُمَّ رَخّصَ لَنَا أَنْ نَنْكِحَ المَرْأَةَ بِالثّوْبِ إِلى أَجَلٍ“. ثم قرأ عبد الله: {يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُحَرِّمُوا طيِّبَاتِ ما أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ} [المائدة: 87] . وَفتْوَى ابن عباس بها مشهورة.

Ketiga: Bahwa nikah mut’ah, para sahabat berikhtilaf dalam hal tersebut, dan Ibnu Abbas membolehkannya, dan jika disebutkan bahwa dia (Ibnu Abbas) telah menarik kembali penghalalannya, maka Abdullah bin Mas’ud membolehkannya. Dalam “As-Shahihayn” darinya (Ibnu Mas’ud), berkata: “Kami sedang berperang bersama Nabi SAW dan tidak ada perempuan bersama kami. Kami berkata: ‘Tidak haruskah kami berkebiri?’ Beliau melarang kami dari hal tersebut dan setelah itu mengijinkan kami untuk menikahi perempuan dengan pakaian hingga masa tertentu.” Kemudian Abdullah membaca: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu.” (QS: al-Maidah: 87) dan fatwa Ibnu Abbas terkait mut’ah adalah masyhur.

(Ighatsatul Lahfan, jil: 1, hal: 295, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh)

Dan dalam kitab Zad al-Maad, ia menuliskan:

وَظَاهِرُ كَلَامِ ابْنِ مَسْعُودٍ إِبَاحَتُهَا، فَإِنَّ فِي ” الصَّحِيحَيْنِ ” عَنْهُ: كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَيْسَ مَعَنَا نِسَاءٌ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نَسْتَخْصِي؟ فَنَهَانَا عَنْ ذَلِكَ، ثُمَّ رَخَّصَ لَنَا بَعْدَ أَنْ نَنْكِحَ الْمَرْأَةَ بِالثَّوْبِ إِلَى أَجَلٍ، ثُمَّ قَرَأَ عبد الله {يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ}. ولكن في ” الصَّحِيحَيْنِ ” عن علي رضي الله عنه، أن رسول الله (ص) حرّم متعة النساء

Dan dzahirnya ucapan Ibnu Mas’ud adalah pembolehannya (mut’ah), sebab dalam “As-Shahihayn” darinya (Ibnu Mas’ud), berkata: “Kami sedang berperang bersama Nabi SAW dan tidak ada perempuan bersama kami. Kami berkata: ‘Tidak haruskah kami berkebiri?’ Beliau melarang kami dari hal tersebut dan setelah itu mengijinkan kami untuk menikahi perempuan dengan pakaian hingga masa tertentu.” Kemudian Abdullah membaca: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Namun dalam “As-Shahihayn” dari Ali RA bahwa Rasulullah SAW telah mengharamkan mut’ah perempuan.

(Zad al-Maad, jil: 5, hal: 102, 1407 H / 1986 M)
  • Abu Bakr al- Baihaqi

Dalam kitab as-Sunan al-Kubra ia menuliskan:

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أنبأ أَبُو عَمْرِو بْنُ السَّمَّاكِ، ثنا يَحْيَى بْنُ أَبِي طَالِبٍ، أنبأ مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ، وَأَخْبَرَنَا أَبُو عُثْمَانَ سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدَانَ النَّيْسَابُورِيُّ , ثنا أَبُو عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ الْحَافِظُ , ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، ثنا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ قَالَا: ثنا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ قَيْسٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَيْسَ مَعَنَا نِسَاءٌ , فَقُلْنَا: أَلَا نَخْتَصِي؟ ” فَنَهَانَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ , وَرَخَّصَ لَنَا أَنْ نَنْكِحَ الْمَرْأَةَ بِالثَّوْبِ إِلَى أَجَلٍ “.

 لَفْظُ حَدِيثِ أَبِي عُثْمَانَ، [ص:326] وَفِي حَدِيثِ أَبِي عَبْدِ اللهِ ” ثُمَّ رَخَّصَ لَنَا فِي أَنْ نَتَزَوَّجَ الْمَرْأَةَ بِالثَّوْبِ إِلَى أَجَلٍ , ثُمَّ قَرَأَ عَبْدُ اللهِ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ} [المائدة: 87] الْآيَةَ.

 أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ , وَمُسْلِمٌ فِي الصَّحِيحِ، مِنْ أَوْجُهٍ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ.

Telah mengabarkan pada kami Abu Abdillah al-Hafidz, telah mengabarkan Abu Amr bin as-Sammak, telah bercerita pada kami Yahya bin Abi Thalib, telah mengabarkan Muhammad bin Ubaid, dan telah mengabarkan pada kami Abu Utsman Said bin Muhammad bin Muhammad bin Abdan an-Naisaburi, telah bercerita pada kami Abu Abdillah Muhammad bin Ya’qub al-Hafidz, telah bercerita pada kami Ibrahim bin Abdillah, telah bercerita pada kami Yazid bin Harun dan Muhammad bin Ubaid, mereka berkata: “Telah mengabarkan pada kami Ismail dari Qais dari Abdullah bin Mas’ud RA, berkata: ‘Kami sedang berperang bersama Nabi SAW dan tidak ada perempuan bersama kami. Kami berkata: ‘Tidak haruskah kami berkebiri?’ Beliau melarang kami dari hal tersebut dan setelah itu mengijinkan kami untuk menikahi perempuan dengan pakaian hingga masa tertentu.’”

Lafadz hadis Abi Utsman (hal: 326) dan dalam hadis Abu Abdillah “Kemudian beliau mengijinkan kami untuk menikahi perempuan dengan pakaian hingga masa tertentu. Kemudian Abdullah membaca: {Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu.} [QS: al-Maidah: 87].

Bukhari dan Muslim telah menerbitkannya (riwayat diatas) dari jalur Ismail bin Abi Khalid.

(Sunan al-Baihaqi al-Kubra, jil: 7, hal: 325-326, no: 14141, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut)
  •  Ibnu Katsir

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menukil riwayat diatas dengan mencantumkan penggalan “إِلَى أجلٍ” yang berarti “hingga masa tertentu”, sebagai berikut:

وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَوَكِيعٌ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: كُنَّا نَغْزُو مع النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَيْسَ مَعَنَا نِسَاءٌ، فَقُلْنَا: أَلَّا نَسْتَخْصِي؟ فَنَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ، وَرَخَّصَ لَنَا أَنْ نَنْكِحَ الْمَرْأَةَ بِالثَّوْبِ إِلَى أَجَلٍ، ثُمَّ قَرَأَ عَبْدِ اللَّهِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّباتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ الآية، أَخْرَجَاهُ مِنْ حَدِيثِ إِسْمَاعِيلَ، وهذا كان قبل تحريم نكاح المتعه، والله أعلم

Dan berkata Sufyan at-Tsauri dan Waki’ dari Ismail bin Abi Khalid dari Qais bin Abi Hazim dari Abdullah bin Mas’ud, berkata: “Kami sedang berperang bersama Nabi SAW dan tidak ada perempuan bersama kami. Kami berkata: ‘Tidak haruskah kami berkebiri?’ Beliau melarang kami dari hal tersebut dan setelah itu mengijinkan kami untuk menikahi perempuan dengan pakaian hingga masa tertentu. Kemudian Abdullah membaca: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu,” (QS: al-Maidah: 87). Mereka memuat riwayat ini dari hadis Ismail, dan ini pada masa sebelum pengharaman mut’ah, Wallahu A’lam.

(Tafsir Ibnu Katsir, jil; 3, hal: 153, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut)
  • Az-zaila’i al-Hanafi

Dalam kitabnya ia menuturkan:

وَقَالَ الْحَازِمِيُّ فِي “كِتَابِهِ”: وَقَدْ كَانَتْ الْمُتْعَةُ مُبَاحَةً مَشْرُوعَةً فِي صَدْرِ الْإِسْلَامِ، وَإِنَّمَا أَبَاحَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلسَّبَبِ الَّذِي ذَكَرَهُ ابْنُ مَسْعُودٍ، كَمَا أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ، وَمُسْلِمٌ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ، قَالَ: سَمِعْت عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ: كُنَّا نغزوا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ لَنَا نِسَاءٌ، فَقُلْنَا: أَلَا نَسْتَخْصِي، فَنَهَانَا عَنْ ذَلِكَ، ثُمَّ رَخَّصَ لَنَا أَنْ نَنْكِحَ الْمَرْأَةَ بِالثَّوْبِ، إلَى أَجَلٍ، ثُمَّ قَرَأَ عَبْدُ الله {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ} ، انْتَهَى

Dan Berkata al-Hazimi dalam kitabnya: “Mut’ah itu diperbolehkan secara syar’i pada awal mula Islam, dan sesungguhnya Nabi SAW telah menghalalkannya karena sebab yang telah disebutkan oleh Ibnu Mas’ud, sebagaimana Bukhari dan Muslim telah memuatnya dari Qais bin Abi Hazim, berkata: ‘Aku mendengar Abdullah bin Mas’ud berkata: ‘Kami sedang berperang bersama Nabi SAW dan tidak ada perempuan bersama kami. Kami berkata: ‘Tidak haruskah kami berkebiri?’ Beliau melarang kami dari hal tersebut dan setelah itu mengijinkan kami untuk menikahi perempuan dengan pakaian hingga masa tertentu. Kemudian Abdullah membaca: {Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu.}, selesai.

(Nashb ar-Rayah Lil Ahadits al-Hidayah, jil: 3, hal: 180-181, Dar al-Hadis, Mesir)
  • Jalaluddin as-Suyuthi (849 – 911 H)

Jalaluddin mencatat dalam kitabnya:

وَأخرج َابْن أبي شيبَة و البُخَارِيّ وَمُسلم وَالنَّسَائِيّ وَابْن أبي حَاتِم وَابْن حبَان وَأَبُو الشَّيْخ وَابْن مرْدَوَيْه وَالْبَيْهَقِيّ فِي سنَنه عَن ابْن مَسْعُود قَالَ كُنَّا نغزو مَعَ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم وَلَيْسَ مَعنا نسَاء فَقُلْنَا أَلا نستخصي فنهانا رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم عَن ذَلِك وَرخّص لنا أَن ننكح الْمَرْأَة بِالثَّوْبِ إِلَى أجل ثمَّ قَرَأَ عبد الله: يَا أَيهَا الَّذين آمنُوا لَا تحرموا طَيّبَات مَا أحل الله لكم وَلَا تَعْتَدوا إِن الله لَا يحب الْمُعْتَدِينَ

Dan telah dimuat oleh Ibnu Abi Syaibah, Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Habban, Abu as-Syekh, Ibnu al-Marduwaih dan al-Baihaqi (dalam Sunannya), dari Ibnu Mas’ud, berkata: “Kami sedang berperang bersama Nabi SAW dan tidak ada perempuan bersama kami. Kami berkata: ‘Tidak haruskah kami berkebiri?’ Beliau melarang kami dari hal tersebut dan setelah itu mengijinkan kami untuk menikahi perempuan dengan pakaian hingga masa tertentu. Kemudian Abdullah membaca: {Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu.}

(Ad-Durr al-manshur Fit Tafsir Bil Ma’tsur, jil: 5, hal: 421)
  • Syahabuddin Ahmad bin Ali

Ia juga menukil periwayatannya berdasarkan Bukhari dan Muslim dalam kitabnya:

ويؤيده ما أخرجه الشيخان في الصحيحين عن ابن مسعود كنا نغزو وليس لنا نساء فرخص لنا أن ننكح المرأة بالثوب إلى أجل. الحديث

Dan menegaskan hal itu (mengacu pada apa yang dijelaskan sebelumnya pada kitabnya), apa yang telah dimuat oleh Syekhan (dua syekh) dalam dua Shahih (Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud: “Kami sedang berperang bersama Nabi SAW dan tidak ada perempuan bersama kami, beliau mengijinkan kami untuk menikahi perempuan dengan pakaian hingga masa tertentu.Al-hadis.

(Al-Ujab Fi Bayanil Asbab, jil: 2, hal: 858, Dar Ibnul Jauzi, 1418 H / 1997 M)
  • Syamsuddin az-Zarkesyi

Begitu pula dengan az-Zarkesyi mencatat dalm kitabnya:

2562- وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال : كنا نغزو مع النبي ليس معنا نساء ، فقلنا : ألا نستخصي ؟ فنهانا عن ذلك ثم رخص لنا بعد أن ننكح المرأة بالثوب إلى أجل ، ثم قرأ عبد الله : «يا أيها الذين آمنوا لا تحرموا طيبات ما أحل الله لكم» الآية ، متفق عليه

Dan dari Ibnu Mas’ud RA:  “Kami sedang berperang bersama Nabi SAW dan tidak ada perempuan bersama kami. Kami berkata: ‘Tidak haruskah kami berkebiri?’ Beliau melarang kami dari hal tersebut dan setelah itu mengijinkan kami untuk menikahi perempuan dengan pakaian hingga masa tertentu.” Kemudian Abdullah membaca: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu,” (QS: al-Maidah: 87) telah disepakati (oleh semua) atas hal ini.

(Syarh az-Zarkesyi, jil: 5, hal: 226-227, Maktabah al-Abikan, 1413 H /1993 M)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 Komentar

  1. Pertama sudah dihapus kedua sudah diharamkan jika ada pendapat membolehkan ketika terjadi peperangan berkecamuk. Jangan menyesatkan umat dengan zinah