Abu Hayyan al-Andalusi: Sebagian Ahlulbait dan Tabiin Meyakini Mut’ah Tidak Dianulir

  • Whatsapp

Muslimmenjawab.com – Ahlulbait Nabi SAWW dan tabiin memiliki kedudukan yang istimewa di kalangan umat Islam. Oleh karena itu tindak tanduk dan aktivitas yang mereka lakukan memiliki nilai khusus dalam pandangan kaum muslimin.

Berangkat dari kenyataan ini, maka layak untuk kemudian melihat hukum mut’ah menurut Ahlulbait Nabi SAWW dan tabiin setelah Rasulullah wafat.

Bacaan Lainnya

Dalam seri kali ini kami akan mengutip pendapat Abu Hayyan al-Andalusi yang mengatakan bahwa sebagian tabiin dan Ahlulbait Nabi meyakini bahwa nikah mutah tidak pernah dianulir sampai Rasulullah SAWW wafat. ABU Hayyan memuat dalam kitab tafsirnya:

 وَقَالَ عِمْرَانُ بْنُ حُصَیْنٍ: أَمَرَنَا رسول الله صلى الله علیه وسلّم بالمتعة، ومات بعد ما أَمَرَنَا بِهَا، وَلَمْ یَنْهَنَا عَنْهُ قَالَ رَجُلٌ بَعْدَهُ بِرَأْیِهِ مَا شَاءَ. وَعَلَى هَذَا جَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْبَیْتِ وَالتَّابِعِینَ.

(‘Imran bin Hushain berkata: Rasulullah SAWW memerintahkan kami untuk melakukan mutah, kemudian beliau wafat setelah memerintahkannya, beliau tidak pernah melarang kami dari melakukannya. Setelah itu seorang laki-laki mengatakan apa yang ia inginkan berdasarkan pendapatnya. Dan sebagian Ahlulbait dan tabiin meyakini pendapat ini) ( Abu Hayyan al-AndalusiAtsiruddin Muhammad bin Yusuf, al-Bahr al-Muhith, jil: 3, hal: 304, cet: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Beirut.)

Atas dasar ini, menyeret serta mempertanyakan mazhab yang meyakini kebolehan mutah tentu saja memiliki konsekuensi yang sulit diterima. Yaitu menghakimi serta mempertanyakan Ahlulbait Nabi SAWW dan sebagian tabiin. Apa lagi jika sampai harus menganggap mereka sebagi pelaku zina.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 Komentar

  1. Ajib..Baru pertama membaca terkait mutah selengkap website ini. Mudah-mudahan para penggarap selalu istiqomah melakukan penelitian sedetail ini. Salam dari pemalang …