MUSLIMMENJAWAB.COM – Selama beberapa tahun terakhir, mazhab Syiah—terutama di Indonesia—selalu menjadi ‘korban’ pensesatan dan pengkafiran oleh kelompok Islam Konservatif. Di mata mereka, Syiah adalah mazhab yang keluar dari Islam, dan sederet tuduhan lainnya.
Salah satu tuduhan itu adalah tentang ‘taqiyah’ yang orang Syiah yakini. Orang-orang yang bersilang pendapat dengan Mazhab Syiah, tanpa tedeng aling-aling, mereka langsung mencap kalau taqiyah yang mereka yakini sama saja dengan berdusta, bahkan mereka menyebutnya nifak.
Menyaksikan itu, kemudian memancing saya untuk meneliti masalah taqiyah ini di buku-buku mereka, untuk membuktikan, apakah benar yang dikatakan oleh kelompok kontra-Syiah itu. Nah, apa yang saya tulis adalah hasil dari penelitian saya, yang saya baca dan telaah di buku-buku mereka (Syiah).
Tentu, hal ini saya lakukan agar kita harus selalu adil dalam menghukumi sesuatu. Dan yang paling penting, sebaiknya, kita harus memakai akal sehat kita, dan tidak mudah menghukumi perkara dengan kacamata negatif, selama kita belum menemukan buktinya secara nyata.
Di halaman selanjutnya, saya mengajak pembaca untuk membaca tulisan ini sambil merenung, barang kali, kita akan menemukan kebenaran, yang mungkin kebenaran itu sudah terdaftar di dalam pencarian kita, namun belum sempat kita cari. Sekarang, saatnya kita membuktikannya!
Perbedaan Taqiyah dan Nifak
Secara bahasa, taqiyah bermakna, menjauh, berhati-hati dan menyembunyikan. Dan secara istilah, taqiyah berarti menyembunyikan keyakinan seseorang di hadapan para musuh demi keselamatan nayawa dan hartanya.
Terkait dengan taqiyah, Syaikh Mufid pernah berkata, “Taqiyah adalah sikap yang menyembunyikan kebenaran dan keyakinan di hadapan para penentang dalam rangka menjauhi dari bahaya, baik terkait dengan perkara agama (baca: akhirat) maupun dunia.”[1]
Menurut Syaikh Ansari, ia juga pernah mengomentarai terkait dengan taqiyah, yang berbunyi begini, “Taqiyah bermakna menjaga diri dari bahaya (gangguan) orang lain dengan menampkan sesuatu yang disepakati oleh lawan bicara, baik dalam perkataan maupun sikap yang bertolak belakang dengan dengan kebenaran yang sesungguhnya.”[2]
Lebih dari itu, taqiyah adalah sebuah sikap yang dilakukan oleh orang yang meyakini Islam, baik rukun iman (akidah) maupun rukun Islam (fikih). Hanya saja, ia menyembunyikan keyakinannya demi menjaga dirinya, keluarganya atau hal-hal yang berharga baginya.
Sementara nifak adalah sebuah sikap yang ditampakkan seseorang yang tak meyakini Islam berikut dengan ajarannya, namun seolah-olah ia menampakkan keislamannya. Dengan kata lain, ia berpura-pura menjadi seorang muslim, sedang sejatinya, dirinya bukanlah seorang Muslim.
Dari sini, jelaslah, bahwa perbedaan taqiyah dan nifaq itu jauh sekali. Kalau kata almarhum Gusdur, perbedaannya bagaiakan langit dan sumur. Bagi mereka yang selalu mengedepankan akal sehatnya, pasti akan dengan mudah menyerap perbedaan antara keduanya.
Jadi, buat mereka yang menuduh Syiah bahwa taqiyah sama halnya dengan nifak, maka tuduhan itu jelas tertolak.
Taqiyah Secara Akal
Dalam membuktikan seuatu yang berkaitan dengan agama, kita dibekali dua dalil, yaitu dalil rasional (akli) dan tekstual (naqli). Nah, sebelum kita membuktikan taqiyah dengan dalil tekstual, sebaiknya kita membuktikannya dengan akal sehat.
Kira-kira, apa tanggapan akal manusia terkait dengan taqiyah? Sebelum itu, saya akan memberikan sebuah contoh berupa sekelompok tentara yang tengah perang.
Para tentara yang tengah berperang, umumnya mereka selalu menyamar dengan kostum yang berwarna serba hijau; menghias diri dengan sesuatu yang mirip dengan alam (baca: pepohonan dan dedauan) atau bersembunyi di tempat paling aman sekalipun.
Tentu, strategi itu mereka lakukan demi menjaga keselamatan diri mereka dari serangan musuh, dan musuh pun akan sulit membaca keberadaan mereka. Dengan menerapkan strategi itu, mereka juga akan dengan mudah menyerang musuh.
Begitulah kira-kira perumpamaan taqiyah menurut akal. Artinya, secara rasional, setiap manusia akan mencari perlindungan jika ada kemungkinan ancaman yang bakal menyerang dirinya.
Dan cara untuk mencegah kemungkinan dari ancaman itu, kadang manusia bersembunyi di tempat teraman, atau melakukan penyamaran. Artinya, dari sini kita bisa memahami bahwa akal sehat membenarkan adanya taqiyah.
Lebih jauh, kalau sudah bicara melalui akal, sejatinya taqiyah bukan saja milik orang Syiah, melainkan milik setiap manusia yang selalu menggunakan akal sehatnya, hanya saja, mereka tak pernah menyadari itu.
Potret Taqiyah di dalam Ayat Al-Quran
Bagi mereka yang meyakini taqiyah setara dengan nifaq, maka hendaknya mereka merenungkan salah satu ayat al-Quran yang mengabadikan kisah Ammar bin Yasir di zaman Nabi saat ia bertaqiyah.
Kala itu, keluarga Ammar, mencakup ayahnya, Yasir dan Ibunya, Sumaiyah yang memeluk Islam berhadapan dengan orang-orang kafir. Mereka memaksa keluarga Ammar untuk meninggalkan Nabi Saw., namun, ayah dan ibunya menolah untuk meninggalkan Nabi Saw.
Dengan sikap itu, akhirnya mereka terbunuh di tangan orang-orang kafir. Sementara Ammar, demi menjaga nayawanya ia melakukan apa yang orang kafir inginkan. Atau dengan kata lain, ia sedang bertaqiyah demi nyawanya.
Lalu, ia mengahdap kepada Nabi Saw., menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dan keluargnya sambil menangis, kemudian sikapnya itu diabadaikan di dalam surah an-Nahl ayat 106.
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar” (QS. An-Nahl: 106).
Para mufassir, baik dari kalangan Syiah maupun Sunni bersepakat bahwa ayat yang turun itu berkaitan dengan Ammar bin Yasir. Bersmaan dengan itu, Nabi Saw., berkata kepadanya, “Seaindanya mereka hendak berbuat hal yang sama kepadamu, maka lakukanlah apa yang telah kamu lakukan (bertaqiyah).”
Di ayat lain, al-Quran telah merekam kisah seorang Mukmin di dalam keluarga Fir’aun, di mana ia secara diam-diam telah beriman kepada Nabi Musa. Namun, ia menyembunyikan keimanannya itu di hadapan orang-orang Fir’aun demi keselamatan nyawanya.
Secara tidak langsung keberadaanya juga menjaga nyawa Nabi Musa, sebab ia selalu mengabarkan hal-hal buruk yang akan dilancarkan kepada Nabi Musa oleh pihak Fir’aun. Kisah itu termaktub di dalam surah Ghafir ayat 28.
“Dan seseorang yang beriman di antara keluarga Fir‘aun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, “Tuhanku adalah Allah,” padahal sungguh, dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. Dan jika dia seorang pendusta maka dialah yang akan menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika dia seorang yang benar, nis-caya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas dan pendusta.” (QS. Ghafir: 28).
Dengan menengok ayat al-Quran yang membicarakan tentang taqiyah, maka mereka tak akan mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya itu, sebab sejatinya taqiyah adalah perbuatan yang benar, yang terabadikan di dalam al-Quran.
Bersambung…
Baca juga: Bolehkah Ber-taqiyah dalam Islam? (Bagian 2)
[1] Syaikh Mufid, Taskhisul I’tiqhad, hal. 137.
[2] Anshari, Tqiyah, hal. 37.







