Sayyidina Ali ‘Dilaknat’ di Era Dinasti Umayyah

MUSLIMMENJAWAB.COM – Kalau kita cermati sejarah Islam, maka salah satu hal yang akan kita dapati adalah kejadian pelaknatan kepada manusia yang yang taat pada Allah sekaligus dekat dengan Nabi saw. sedari kecil, yaitu Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Iya, tak kita mungkiri, di era Dinasti Umayyah, Sayyidina Ali menjadi korban pelaknatan. Orang yang kali pertama melakukan pelaknatan kepada menantu nabi itu tak lain adalah Muawiyah bin Abi Safwan.

Tak main-main, ia rela membayar ahli hadis dan Al-Quran untuk menciptakan hadis-hadis dan tafsiran al-Quran yang palsu demi melancarkan rencana busuknya itu. Semua itu ia lakukan agar rantai pelaknatan itu terus berkesinambungan hingga ke anak-cucu mereka, dan berharap, reputasi Sayyidina Ali benar-benar  ternodai, dan di sisi lain kecintaan masyarakat kepadanya (Muawiyah) kala itu kian bertambah.

Read More

Pelaknatan terhadap Sayyidna Ali oleh Dinasti Umayyah biasa dilakukan di mimbar-mimbar. Dan kebiasaan buruk ini berakhir di zaman Umar bin Abdul Aziz. Sayyidina Ali adalah manusia yang memiliki banyak keutamaan, maka secara common sense, tentu orang-orang yang melakukan pelaknatan kepadanya bertolak belakang dengan akal sehat.

Kejadian di atas dikonfirmasi oleh salah satu ulama kenamaan Sunni, Damiri Syafi’i. Di dalam kitabnya yang berjudul Hayatul Hayawanul Kubra ia menulis sebagai berikut.

وأزال ما کانت بنو أمیة تذکر به علیا على المنابر، وجعل مکان ذلک قوله تعالى إِنَّ اللَّهَ یَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسانِ.

 “Telah hilang perkara yang sering disebut-sebut (pelaknatan dan caci maki) oleh Bani Umaiyah terhadap Ali bin Abi Thalib di atas mimbar, kemudian Umar bin Abdul Aziz menggantinya dengan friman Allah:  Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.”[1]

Kalau kita membaca tulisan sebelumnya, korban dari pelaknatan adalah mereka yang bertentangan dengan perilaku manusia normal, sementara Sayyidna Ali adalah pribadi yang mulia dan sempurna, yang jauh dari kata buruk, maka pelaknatan terhadapnya adalah perbuatan yang semestinya dihindari.


[1] Hayatul Hayawanul Kubra, Damiri Syafi’I, jil 1, hal. 241, penerbit: Darul Basya’ir 2005 H.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments