Tuduhan Ghuluw Kepada Syiah (3)

  • Whatsapp

Muslim Menjawab – Beberapa riwayat dalam kitab hadits Syiah digunakan oleh kelompok yang anti syiah dengan tuduhan ghuluw terhadap syiah, diantaranya hadits yang berbunyi:

و روى الحسن بن سليمان من كتاب البصائر لسعد بن عبد الله بإسناده عن أبي جعفر عليه السلام قال: قال أمير المؤمنين في خطبة طويلة: أنا دابة الأرض، و أنا قسيم النار، و أنا خازن الجنان، و أنا صاحب الأعراف” الخبر”.

Bacaan Lainnya

و في كتاب سليم بن قيس الهلالي عن أبي الطفيل قال: سألت أمير المؤمنين عليه السلام عن الدابة؟ فقال: يا أبا الطفيل إله عن هذا[1] فقلت: يا أمير المؤمنين أخبرني به جعلت فداك! قال: هي دابة تأكل الطعام و تمشي في الأسواق و تنكح النساء، فقلت:

يا أمير المؤمنين من هو؟ قال: رب الأرض الذي يسكن‏ الأرض‏ قلت: يا أمير المؤمنين من هو؟ قال: الذي قال الله:” وَ يَتْلُوهُ شاهِدٌ مِنْهُ” و الذي” عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتابِ‏” و الذي” صَدَّقَ بِهِ]

“”dari Abu Ja’far as, berkata: Amirulmukminin dalam khutbahnya yang panjang mengatakan; saya adalah daabat al-ardh…”

“dari Abu Tufail bertanya kepada Amirulmukminin mengenai daabat tersebut? …Imam berkata: daabat tersebut adalah orang yang memakan makanan  dan berjalan di pasar-pasar, dan menikahi wanita, aku bertanya kembali: wahai Amirulmukminin, siapakah dia ? Imam Berkata: dia adalah rabb al-ardh yang tinggal di bumi….”(Muhammad Baqir Majlisi, Mir’at al-Uqul: 2/369, Dar-Al-kutub al-Islamiah – Tehran, 1404 H)

Dari sana para penuduh mengatakan bahwa berarti Ali bin Abi Thalib tadi adalah rab al-ardh, yang mereka maknai dengan “Tuhan bumi”. Sehingga mereka ingin mengatakan bahwa Syiah itu ghuluw dikarenakan meyakini Ali bin Abi Thalib sebagai Tuhan di bumi ini.

Pada hal jikalau kita lihat dari sisi Bahasa kata rabb´ mengandung banyak arti bisa bermakna malik/pemiliki, sayyid /tuan, mudabbir / pengelola, murabbi/pendidik, qayyim/penanggung jawab, mun’im/dermawan, seperti yang dijelaskan dalam lisanularab berikut ini:

الرَّبُ‏ يُطْلَق في اللغة على المالكِ، و السَّيِّدِ، و المُدَبِّر، و المُرَبِّي، و القَيِّمِ، و المُنْعِمِ؛ قال: و لا يُطلَق غيرَ مُضافٍ إِلّا على اللّه، عزّ و جلّ، و إِذا أُطْلِق على غيرِه أُضِيف‏

Ar-Rabb secara bahasa bisa dimaknai dengan makna pengusa/pemilik, tuan, pengelola, pendidik, penanggung jawab, dan dermawan; … dan tidak dimaknai (kata tersebut) tanpa di-idhofahkan (ditambahkan) dengan kata lain kecuali hanya untuk Allah Swt saja, dan jikalau ingin dimaknai kepada selain-Nya maka harus di -idhofahkan (dengan kata lain).” (Ibn Mundzir, Lisan al-Arab: 1/399, Dar-Shodir – Beirut).

Dan kenyataannya kata rabb pada hadits diatas diidhofahkan dengan kata al-ardh, sehingga maksud dari kata rabb tersebut disini bukanlah dimaknai dengan makna Tuhan tetapi dengan makna selain Tuhan.

Hal ini dipertegas oleh Syeikh Ali An-Namazi as-Syahrudi di dalam kitabnya Mustadrak Safinatulbihar mengenai hadits ini, dikatakan:

وقد يجيء الربّ بمعنى المالك ومنه قول عبد المطلب في قصة أصحاب الفيل: أنا ربّ الإبل وللبيت ربّ،

ويجيء بمعنى السائس والمدبّر والمصلح والسيّد..

وعلى ما تقدّم يظهر معنى كلام مولانا أمير المؤمنين (عليه السلام) حين سئل عن دابّة الأرض فقال: هو ربّ الأرض الّذي تسكن الأرض به . قال الراوي: قلت: يا أمير المؤمنين (عليه السلام) من هو؟ قال: صدّيق هذه الاُمّة وفاروقها وربّيُها وذو قرنيها

Ar-Rabb  bisa bermakna pemilik contohnya seperti perkataan Abdulmuthallib dalam kisah ashabulfil : Saya adalah rabb alibil (pemilik unta)

“Kata tersebut juga bisa bermakna pemimpin, pengelola, orang yang melakukan perbaikan, tuan

Dan dari apa yang telah lewat jelas bahwa makna dari perkataan maula kita Amirulmukminin (as) ketika ditanyakan mengenai daabat al-ardh: dia adalah rabb al-ardh yang tinggal di bumi, Perawi berkata, aku berkata : Wahai Amirulmukminin (as) siapakah dia? Imam Ali berkata: Orang yang benar di umat ini  dan yang bijaksana, pemeliharanya dan …” (An-Namazi, Mustadrak Safinah al-Bihar: 4/46, Muassasah An-Nasyr al-Islami, 1419 H).

Bahkan al-Quran pun penggunaan kata rabb  tidak selalu dimaknai dengan makna Tuhan seperti

وَقَالَ لِلَّذِيْ ظَنَّ اَنَّهٗ نَاجٍ مِّنْهُمَا اذْكُرْنِيْ عِنْدَ رَبِّكَۖ فَاَنْسٰىهُ الشَّيْطٰنُ ذِكْرَ رَبِّهٖ فَلَبِثَ فِى السِّجْنِ بِضْعَ سِنِيْنَ ࣖ

Dan dia (Yusuf) berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua, “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka setan menjadikan dia lupa untuk menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya. (Yusuf:42)

Kata rabb dalam ayat ini dimaknai dengan makna “tuan”.

Kata Rabb al-Ardh pun digunakan oleh Bukhari dalam sahihnya sebagai judul bab yakni

باب إِذَا قَالَ رَبُّ الأَرْضِ أُقِرُّكَ مَا أَقَرَّكَ اللَّهُ وَلَمْ يَذْكُرْ أَجَلاً مَعْلُومًا فَهُمَا عَلَى تَرَاضِيهِمَا

“Bab Jikalau berkata rabb al-ardh (pemilik tanah) uqirruka maa aqarrakallah dan belum menyebutkan waktu yang ditentukan maka keduanya (pihak pemilik tanah dan pihak kedua) atas keridhoan keduanya,” (Bukhari, Sahih Bukhari: 563, Dar Ibn Al-Katsir – Beirut, cetakan pertama, 1423 H).

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa tuduhan ghuluw kepada syiah dengan hadits mengenai rabb al-ardh tidak lah tepat sama sekali, karena maka rabb disini bukanlah bermakna Tuhan tetapi bermakna pemimpin, khalifah dan pemilik warisan bumi seperti yang Allah firmankan di dalam ayat :

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ

Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuzh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh   (Al-Anbiya: 105).


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.