MUSLIMMENJAWAB.COM – Sebuah kata yang tak pernah absen dari benak kita saat membicarakan Syiah adalah istilah Rafidhah. Kelompok pembeci sering kali melabeli pengikut Syiah dengan istilah tersebut. Puncaknya, mereka memekikkan ‘darah halal’ bagi orang Syiah atau, yang mereka sebut Rafidhah. Tentu, sikap seperti ini patut dipertanyakan, apakah Islam mengajarkan demikian, menghalalkan darah orang yang berbeda keyakinan?
Di dalam tulisan sebelumnya telah kami bahas tentang makna Rafidhah, baik secara Bahasa maupun istilah. Di dalam beberapa tulisan sebelumnya juga, telah ditegaskan bahwa Rafidhah bukanlah istilah syar’i, melainkan istilah politik yang dimanfaatkan oleh para penguasa kala itu. Hingga kini, istilah itu masih santer dan dijadikan salah satu senjata untuk memojokkan Syiah.
Ibnu Hajar Al-Askolani menulis di dalam kitabnya, Fathul Bhari, Rafidhah atau Rafidhi adalah mereka yang mencintai Sayyidina Ali melebihi kecintaan mereka kepada Sayyidina Abu Bakar dan Umar hingga menuhankan Sayyidina Ali. Berbicara tentang Rafidah, tertulis di dalam salah satu kitab Kitabul Kifayah fi Ilmi Ad-Dirayah karya Al-Khatib Al-Baghdadi—seorang ulama Sunni—bahwa ia menulis tentang salah satu sahabat nabi yang berlebihan dalam menjadi Syiah.
Sahabat yang dimaksud oleh Al-Khatib Al-Baghdadi adalah Amir bi Wasilah Abu Tufhail. Ia adalah sahabat nabi tingkat pertama. Di dalam kitabnya, al-Baghdadi menulis sebagai berikut.
خْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ يَعْقُوبَ , أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ نُعَيْمٍ الضَّبِّيُّ , قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ بْنَ الْأَخْرَمِ الْحَافِظَ , وَسُئِلَ: لِمَ تَرَكَ الْبُخَارِيُّ حَدِيثَ أَبِي الطُّفَيْلِ عَامِرِ بْنِ وَاثِلَةَ , قَالَ: «لِأَنَّهُ كَانَ يُفْرِطُ فِي التَّشَيُّعِ.
“Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ahmad Ya’qub, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nu’aim Ad-Dhabiy, bahwa ia berkata, ‘Aku mendengar dari Aba Abdilllah ibn Al-Akhram al-Hafidz dan ia ditanya, ‘Kenapa Bukhari meninggalkan (tidak meriwayatkan) hadis dari Abi Thufail?’ Lalu ia menjawab, ‘Karena dia (Abi Thufail) berlebihan dalam menjadi Syiah.’”[1]
Sejauh ini, para pembenci mazhab Syiah, selain selalu menyesatkan orang Syiah, juga rajin memekikkan seruan kafir kepada mereka, maka bagaimana reaksi mereka (para pembenci Syiah) saat tahu, ternyata Abu Thufail, yang merupakan sahabat nabi adalah Rafidhah?
[1] Kitabul Kifayah fi Ilmi Ad-Dirayah, Al-Khatib Al-Baghdadi, hal 131.









