MUSLIMMENJAWAB.COM – Rasa-rasanya, pembahasan tentang kepemimpinan selepas wafatnya Rasulullah Saw. masih hangat untuk diperbincangkan. Sebagaimana yang telah disinggung di pembahasan sebelumnya, orang-orang Syiah meyakini, bahwa pemimpin pasca mendiang Nabi Saw. adalah Sayyidina Ali RA.
Keyakinan mereka akan hal ini setidaknya berpijak pada dalil yang banyak tertulis di dalam buku-buku Syiah dan Sunni, bahkan di antara dalil itu dapat kita temui di dalam kitab yang menjadi refrensi utama orang-orang Sunni, setamsil Sahih Muslim dan Bukhari Muslim, Sunan at-Turmudzi dan sebagainya.
Jika Anda mengikuti seri tulisan Shiaologi ini sedari awal, tentu Anda juga telah membaca bukti tentang Nabi Saw. menyerahkan tampuk kepemimpinanya kepada menantunya, Sayyidina Ali RA, terlebih di dalam peristiwa Gadhir Khum. Nah, di tulisan kali, penulis hanya hendak melengkapi dalil-dalil yang telah dibahas sebelumnya dengan rujukan kitab yang berbeda.
Ibnu Abi Ashim, seorang ulama Sunni menulis di dalam kitabnya yang berjudul Kitabus Sunnah sebagai berikut.
قال رسول الله (ص): وأنت خليفتي في كلّ مؤمن من بعدي.
Rasulullah berkata, “Dan engkau (Sayyidina Ali RA) adalah khalifahku bagi setiap kaum Mukmin setelahku.”[1]
Lalu, ia juga menambahkan bahwa 1188 sanad dari riwayat tersebut terbilang hasan. Artinya, keabsahan riwayat itu dapat dipertanggungjawabkan.
Sebagai penyempurna dari riwayat di atas, penulis suguhkan riwayat lain di dalam Mustadrak Ala Sahihain karya Hakim al-Naisaburi senorang ahli hadis kesohor di zamannya. Terkait dengan Sayyidina Ali RA. ia menulis bahwa Sayyidina Ali adalah seorang imam yang bertakwa.
قال النبي صلی الله علیه واله وسلم:«علي إمام المتقين.
Nabi Muhammad Saw. berkata, “Ali adalah seorang pemimpin yang bertakwa.”[2]
Itulah sedikit bukti yang bisa penulis suguhkan tentang ucapan Nabi Saw. yang telah menjadikan Sayyidina Ali RA. sebagai pemimpin kaum Muslimin setelah wafatnya. Dengan membaca seri tulisan Shiaologi ini, semoga makin membuka pikiran kita dan tidak sensistif menyaksikan ragam pendapat.
[1] Kitabus Sunnah, Ibnu Abi Ashim, hal. 565.
[2] Mustadrak Ala Sahihain, Imam al-Naisaburi, jil. 3, hal. 148.











