Muslimmenjawab.com – Sebelum membahas lebih lanjut tentang Syiah perlu untuk terlebih dahulu mendefenisikannya baik secara etimologi maupun terminologi sehingga pembahasan yang akan dikaji pada beberapa seri kedepan tidak keluar dari ruang lingkup yang telah terdeskripsikan secara jelas.
Secara etimologi syiah memiliki makna pengikut, penolong dan kesepakatan atau meneyepakati. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat apa yang dipaparkan oleh para ahli bahasa arab seputar kata ini.
Di dalam lisan al-Arab disebutkan: “Syiah adalah suatu kaum yang berkumpul dalam suatu permasalahan, dan setiap kaum yang berkumpul dalam suatu permasalahan maka mereka disebut syiah. Dan setiap kaum yang sebagiannya mengikuti pemikiran yang lainnya disebut syiya’.”[1]
Kitab al-Mishbah al-Munir menyebutkan: “Syiah adalah pengikut dan penolong, dan setiap kelompok yang sepakat dalam satu perkara maka mereka disebut syiah.[2]
Ibn Atsir di dala kitabnya menyebutkan bahwa dasar kata ini memiliki makna mengikuti: dasar kata ini adalah Musyayaah iaitu mengikuti dan mematuhi.[3]
Di dalam al-Quran kata ini juga mengacu kepada makna etimologi tersebut. Al-Mizan sewaktu menfsirkan ayat 15 dari surat al-Qashas (هذا من شیعته و هذا من عدوه) menjelaskan: pengertiannya adalah bahwa salah seorang dari mereka berasal dari bani Israel dan pengikutnya dalam masalah agama.[4] Masih dalam kitab yang sama tapi berbeda jilid dan halaman ketika membahas ayat 83 dari surah al-Shaffat ((ان من شیعته لابراهیم allamah Thabathabai menyebutkan: maksudnya bukanlah salah seorang mereka mengikuti yang lainnya seperti seorang makmum mengikuti imamnya atau pengikut bagi pemimpinnnya, akan tetapi maksudnya adalah setiap orang yang mengikuti orang lain dalam perjalanannya maka dia adalah syiahnya baik ia terdahulu maupun terbelakang.[5]
Penjelasan ini memberikan kita satu poin penting bahwa menurut tafsir al-Mizan makna kata syiah dalam ayat-ayat ini adalah pengikut yang tentu saja hal ini mengacu pada makna etimologi sebagai mana di sebutkan di atas.
Secara terminologi, ada banyak ulama yang mendefenisikan Syiah, oleh karena itu pada seri ini akan disebutkan dua diantaranya iaitu defenisi yang tertera dalam kitab al-Milal wa al-Nihal dan Maqalat al-Islamiyyin.
Syahrastani di dalam kitabnya menyebutkan: “Syiah adalah mereka yang mengikuti Ali RA secara khusus. mereka meyakini imamah dan ke-khalifahannya berdasarkan nash dan wasiat baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Mereka berkeyakinan bahwa ke-khalifahan tidak akan beralih dari keturunannya. Dan jika terjadi peralihan maka itu disebabkan kezaliman orang lain, atau taqiah darinya.”[6]
Sedangkan Abu Musa al_asyari di dalam kitabnya Maqalat al-Islamiyyin mendefenisikan Syiah sebagai berikut: “mereka di sebut Syiah karena mengikuti Ali RA dan mengutamkannya dari seluruh sahabat Rasul SAWW.[7]
Dari kedua defenisi ini dapat dipahami bahwa Syiah adalah orang yang mengikuti imam Ali AS dan keturunannya karena ada nash dan wasiat ataupun disebabkan keutamaan beliau dari semua sahabat sebagai mana disebutkan oleh Abu musa Asari.
Tentu saja pada seri berikutnya akan disebutkan defenisi lain dari beberapa ulama lainnya.
[1] Ibn Manzur, Lisan al-Arab, hal: 258, cet: Dar Ihya Turats al-Arabi, Beirut.
[2] Fayyumi, Ahmad bin Muhammad bin Ali, al-Misbah al-Munir, hal: 329, cet: Mansyurat al-Hijrah, Qom- Iran.
[3] Ibn Atsir, Abdullah bin Abu al-Syaadat, al-Nihayah, hal: 740, cet: Dar Ihya Turats al-arabi, beirut.
[4] Thabathabai Muhammad husain, al-Mizan Fi tafsir alQuran, jil: 16, hal: 17, cet: Jamaat al-Mudarrisin, Qom.
[5] Thabathabai Muhammad husain, al-Mizan Fi tafsir alQuran, jil: 17, hal: 147, cet: Jamaat al-Mudarrisin, Qom.
[6] Syahrastani, Abdul Karim, al-Milal wa al-Nihal, jil: 1, hal: 169.
[7] Asyari, Abu Hasan Ali bin Ismail, Maqalat al-Islamiyyin, jil:1, hal: 65, cet: al-Maktabah al-Ashriah, beirut.





















