Sederet Habib yang Luput dari Cinta Kita

  • Whatsapp

MUSLIMMENJAWAB.COM – Hingga detik ini, gelombang konflik terkait Habib Rizieq dengan beberapa orang—yang oleh sebagian kelompok tertentu—ditokohkan belum juga surut.

Tak berhenti di situ, makin ke sini, kasus baru juga menimpanya, yaitu pelanggaran yang dibikinnya, berupa pagelaran maulid nabi di pernikahan putrinya baru-baru ini.

Bukan acara maulidnya yang dirasa melanggar, namun lebih ke kerumunan manusia yang hadir di acara tersebut, mengingat masa pagebluk yang masih belum juga usai.

Bukan tidak mungkin, bahwa kerumunan manusia itu justru akan memperparah dan memperpanjang jatah hidup virus corona di tengah-tengah manusia.

Atas dasar itulah pemerintah setempat mengambil tindakan yang ditujukan kepada si habib dan para pecintanya.

Kalau kita amati, hampir di setiap konfik tak ubahnya seperti dua mata pisau yang saling berlawanan. Dengan kata lain, ada yang pro juga kontra.

Dalam kasus habib Rizieq, tentu tak sedikit yang kontra, namun kita juga tak boleh menutup mata, yang pro juga tak kalah banyaknya.

Harus penulis katakan, bukan habib Rizieq yang menjadi titik fokus di sini. Penulis hanya hendak membeberkan, sejatinya habib mana yang layak dicintai dan diikuti?

Kita sebagai—untuk mengatakan tidak berlebihan—pengguna sosial media tentu mau tak mau membaca dan menyaksikan konflik ini.

Namun, di tengah kehebohan Rizieq Shihab—terlepas dari pro dan kontra—kadang kita lupa bahwa ada habib yang kedudukannya melebihi para habib yang mesti kita cintai.  

Siapakah habib yang penulis maksud?

Iya, tak kita mungkiri, dzuriyah Nabi Muhammad Saw. di muka bumi ini memiliki jumlah yang tak sedikit, tak terkecuali di Indonesia.

Para habib yang kita lihat, baik secara langsung maupun tidak langsung, mereka adalah keturuan nabi Saw. Namun, kita juga tak bisa memukul rata, bahwa setiap habib layak dijadikan sebagai panutan.

Para habib yang kita lihat tidaklah maksum (terlepas dari dosa dan kesalahan). Lebih dari itu, mereka adalah manusia biasa, yang tak luput dari salah dan sifat buruk.

Karenanya, tak semua habib menebar aura positif, ada juga yang sebaliknya. Maka, kita mesti peka mana habib yang layak dicintai dan dihormati, dan mana yang tidak.

Artinya, kita tak memandang semua dari mereka dari kacamata egaliter, kita hendaknya mampu mengklasifikasi mereka dari sisi sifat, kecerdasan dan yang lainnya.

Memang benar, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti dari habib adalah sosok yang dicintai, namun apakah kita juga harus mencintai mereka yang bertolakbelakang dengan nilai kemanusiaan?

Jauh sebelum perkara habib ini menyeruak ke permuakaan hidup kita, Al-Quran dan sejumlah hadis sudah mengingatkan kita untuk mengikuti dan mencintai mereka.

Pertanyaanya, habib manakah yang disebutkan di dalam al-Quran itu?

Di dalam salah satu penggalan dari surah Asy-Syura ayat 23, misalnya, Allah berfirman, Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (QS. As-Syura: 23).

Seluruh ahli tafsir Syiah dan banyak dari ulama Sunni menafsirkan, bahwa kata keluarga atau sesuai yang tertulis di  teks asilnya Al-Qurba bermakna sebagai Ahlulbait (keluarga) nabi Saw.

Meski begitu, tak sedikit perdebatan di antara mereka tentang siapa yang dimaksud Al-Qurba. Pertanyaan berikutnya, siapakah yang dimaksud Ahlulbait nabi?

Dikutip dari Ibnu Abbas yang tergurat di dalam Sahih Bukhari-Muslim dan Musnad Ahmad bin Hambal, saat ayat di atas turun kepada Nabi Muhammad Saw., sejumlah orang bertanya kepadanya siapa yang dimaksud keluarga yang harus dicintai itu.

Di dalam jawabnya, Nabi Saw. berkata, “Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.” [1] Ahmad bin Hambal juga tak ketinggalan menukil riwayat tersebut.[2]

Hakim Haskani, seorang ulama Sunni juga menukil riwayat di atas. Ia meyakini, bahwa yang dimaksud dari Ahlulbait Nabi adalah Imam Ali, Sayyidah Fathimah, Imam Hasan dan Imam Husain.[3]

Lebih lanjut, dinukil dari  Imam Baqir as., ia pernah berkata, “Manifestasi dari surah Asyura ayat 23 adalah para manusia maksum (yang berjumlah empat belas orang).” [4]

Membicarakan Ahlulbait—dengan segala kemuliaan dan kesempurnaan yang melekat pada mereka—tentu tak ada habisnya dan tak pernah lekang oleh waktu. Maka, di ruang yang terbatas ini juga keterbatasan ilmu penulis, kita tidak bisa membahasnya panjang-lebar.

Dari sini kita sedikit paham, bahwa kepada merekalah cinta kita seharusnya berlabuh. Kepada mereka jugalah hendaknya kita meniru tindak-tanduk dan sederet kemuliaan yang disandang.

Kita tak perlu silau dengan para habib hingga kita lupa siapa yang mestinya layak kita cintai dan ikuti. Mencintai dan mengikuti mereka tentu tidak dilarang, namun yang perlu kita ingat, kita mesti bijak dalam memilih pantutan—dalam hal ini adalah seorang habib.

Akhir kalam, Ahlulbait nabi sejatinya adalah para habib sejati, yang kadang luput dari sentuhan cinta kita.


[1] Allamah Hilli, Nahjul Haq, Darul Kita Al-Lubnani, hal. 175.

[2] Ibnu Hambal, Fadail Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib, 1433 H, hal. 295.

[3] Hakim Hskani, Syawahid At-Tanzil, 1411 H., jil. 2, hal, 189, 196.

[4] Kulaini, Al-Kafi, Darul Kitab Islamiyah, jil. 1, hal. 413.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 Komentar

  1. Admin boleh di berikan hadits dari Imam ahmad bin hanbal tentang keutamaan Imam Ali..thanks