Akar Pemikiran Wahabi pada Ibnu Taimiyah (Tajsim)

MUSLIMMENJAWAB.COM – Ibnu Taimiyah (w 728 H) merupakan salah seorang ulama besar dari wilayah Harran yang memberikan pengaruh dalam alur pemikiran dunia Islam pada masanya. Sosoknya yang dikenal cerdas dan rajin dari semenjak kecil mengantarkannya menjadi seorang ulama yang berhasil menguasai berbagai keilmuan Islam serta penghafal al-Quran (Hafiz).

Ia juga adalah seorang tokoh yang produktif dengan pendapat dan pandangan dalam berbagai bidang persoalan Islam, meskipun hal tersebut menuai konflik serta pro dan kontra dari para ulama lain yang semasa dengannya, sepeninggalnya dan bahkan hingga saat ini.

Bacaan Lainnya

Oleh sebab itu, banyak karya yang telah dilahirkannya yang mana hingga saat ini masih memberikan warna dalam pemikiran kaum Muslimin. Seperti yang telah kami singgung dalam pembahasan yang lalu, bahwa salah satunya Ibnu Taimiyah memiliki pandangan Tajsim (keyakinan bahwa Allah Swt mempunyai fisik) yang mana kemudian akidah ini diadopsi oleh berbagai kelompok, yang paling jelas diantaranya gerakan Wahabi.

Pemikiran Ibnu Taimiyah ini bisa kita lihat dalam berbagai kitabnya sebagai berikut:

“Hati dan limpa atau yang semacamnya adalah organ (untuk) makan dan minum. Dan al-Ghani (Allah Swt yang maha kaya) yang jauh dari hal-hal seperti itu; terhindar dari (tidak memiliki) perangkat-perangkat seperti itu, lain halnya dengan tangan, sebab itu untuk perbuatan dan pekerjaan. Dan Dia Swt disifati dengan perbuatan dan pekerjaan.[1]

Dalam kutipan di atas meskipun pada awalnya Ibnu Taimiyah menafikan Allah Swt dari predikat makan dan minum, yang menurutnya itu jauh dari Dzat-Nya, sehingga Ia tidak memiliki organ yang menunjang hal tersebut seperti yang dicontohkan dengan hati dan limpa. Namun beda ceritanya dengan tangan, sebab tangan dibutuhkan untuk melakukan sebuah pekerjaan dan perbuatan, dan Allah Swt juga disifati dengan pekerjaan dan perbuatan.

 Pada kitabnya yang lain ia menyebutkan:

Para ulama dan wali telah mengabarkan: ‘Sesungguhnya Muhammad Rasulullah Saw, Tuhannya mendudukannya di atas Arsy bersama dengan-Nya.”[2]

Pernyataan ini menggambarkan Allah Swt yang mendudukan Nabi Muhammad Saw bersama dengan-Nya di atas Arsy, atau dengan kata lain secara tidak langsung menjelaskan bahwa Allah Swt memiliki fisik yang mana sedang duduk di atas Arsy.

Di sisi lain Ibnu Taimiyah di sini menisbahkan pernyataan tersebut kepada pada para ulama, yakni; pertama, berangkat dari riwayat mengenai tafsir surat al-Isra ayat 79 (…mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji) yang dinukil dari Muhammad bin Fudhail yang menyebutkan makna ayat tersebut dari sisi yang lain, yaitu “yang dinaikan dan tidak dinaikan (secara fisik)”. Kemudian kedua Ibnu Taimiyah juga menukil perkataan Ibnu Jarir terkait makna tersebut bahwa itu tidak bertentangan dengan riwayat Mustafidh (banyak mendekati mutawatir) yang menjelaskan bahwa maksud dari “tempat yang terpuji” adalah syafaat sesuai dengan kesepakatan para ulama. Setelah itu, ia berdalih bahwa Ibnu Jarir tidak mengatakan bahwa pendudukan Nabi Saw di atas Arsy adalah satu hal yang munkar (salah dan dilarang) begitu juga penyebutannya dalam menafsirkan ayat tadi. Oleh sebab itu dapat kita lihat di sini bahwa penisbahan pernyataan tadi terhadap para ulama yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah hanyalah berupa spekulasi.

Itulah beberapa bukti dari pemikiran Tajsim Ibnu Taimiyah dalam karyanya. Di sisi lain, hal ini juga diperkuat dengan adanya catatan kesaksian dari para tokoh lain yang semasa dengannya. Seperti Abul Fida Ismail bin Ali (w 732 H), seorang tokoh, ahli sastra sekaligus penulis sejarah. Dalam kitabnya yang masyhur dengan sebutan Tarikh Abul Fida, ia mencatat kejadian penahanan yang terjadi pada Ibnu Taimiyah dan mengungkap alasannya, sebagai berikut:

“(Dan pada masa itu) Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah dipanggil dari Damaskus menuju Mesir, lalu digelar sebuah majlis untuknya kemudian ia ditahan dan dipenjarakan dengan alasan akidahnya, sebab ia sering menyuarakan Tajsim berdasarkan apa yang dinisbahkan terhadap Ibnu Hanbal.”[3]

Dengan demikian, menjadi jelas bahwa Ibnu Taimiyah memiliki pandangan akidah berupa Tajsim yang mana hal tersebut masih berkembang dan ada hingga saat ini, seperti yang kita ketahui sama dengan pemikiran Wahabi yang insyaAllah kedepannya akan dibahas secara lebih khusus.

Wallahu A’lam bis Shawaab.


[1] Ibnu Taimiyah, Taqiyuddin Ahmad bin Abdul halim, Al-Risalah Al-Tadammuriyah, hal: 90, Jamiatul Imam Muhmmad bin Saud Al-Islamiyah.

[2] Ibnu Taimiyah, Taqiyuddin Ahmad bin Abdul halim, Majmuatul Fatawa, jil: 4, hal: 229.

[3] Abul Fida, Imaduddin Ismail, Al-Mukhtashar fi Akhbaril Basyar, jil: 4, hal: 52.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar