Gembira dengan Kelahiran Nabi Muhammad SAWW, Azab Abu Lahab Diringankan

MUSLIMMENJAWAB.COM – Melanjutkan sanggahan atas pendapat yang mengatakan bahwa perayaan dan peringatan maulid adalah amalan bid’ah yang menyesatkan, pada tulisan ini akan diajukan dalil lain yang membuktikan bahwa amalan tersebut memiliki landasan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Demikian Jalaluddin Suyuti memaparkan dalil tersebut di dalam kitabnya:

Bacaan Lainnya

“kemudian aku melihat imam para qari hafiz Syamsuddin bin Jizri mengatakan di dalam kitabnya yang bernama Urf al-Ta’rif bi al-Maulid al-Syarif yang isinya: sungguh setelah kematiannya, ada yang melihat Abu lahab di alam mimpi, lalu ia ditanya: bagaimana keadaanmu? Ia menjawab: (aku berada) di dalam neraka. Hanya saja siksaanku diringankan setiap masuk malam Senin, dan mengalir air dari antara jari-jariku seukuran ini- ia menunjukkan ujung jari-jarinya-. Yang demikian itu karena aku memerdekakan Tsuwaibah ketika ia memberiku kabar gembira dengan kelahiran Nabi SAWW dan menyusuinya. Jika Abu Lahab yang kafir di mana al-Quran turun untuk mencercanya diberi ganjaran berupa keringanan di neraka dengan sebab kebahagiannya atas kelahiran Rasul SAWW pada malam kelahirannya, maka bagaimana keadaan seorang yang mengesakan tuhan dari ummat Muhammad SAWW yang bergembira dengan kelahirannya dan mengorbankan apa yang mampu ia lakukan dalam mencintainya? Demi umurku, sungguh balasannya dari Allah yang maha mulia tidak lain kecuali ia memasukkannya kedalam sorga dengan karuniaNya.[1]

Jalaluddin Suyuti melanjutkan:

“ dan Hafiz Syamsuddin bin Nashiruddin al-Dimasyqi berkata di dalam kitabnya yang bernama Maurid al-Shadi Fi Maulid al-Hadi: sungguh benar bahwa Abu Lahab diberi keringanan azab pada seumpama malam Senin, karena ia memerdekakan Tsuwaibah sebagai rasa gembiranga atas kelahiran Nabi SAWW. Lalu ia (Hafiz Syamsuddin) membacakan syair berikut:

Jika si kafir yang cercaannya telah datang (dalam al-Quran) – dan celaka tangannya dalam keadaan kekal di neraka. Datang berita yang mengtakan bahwa setiap hari Senin selalu – diringankan azabnya karena gembira dengan (kelahiran) Ahmad. Lantas bagaimana keyakinan kita terhadap seorang hamba yang sepanjang umurnya – gembira dengan (kelahiran) Ahmad dan meninngal dalam keadaan mengesakan Allah?[2]

Catatan di atas menjelaskan bahwa peringatan maulid Nabi Muhammad SAWW memiliki dasar berupa riwayat yang mengatakan bahwa Abu Lahab mendapatkan keringanan azab setiap Senin karena berbahagia dengan kelahiran Nabi Muhammad SAWW.

Dengan alasan yang sama; berbahagia dengan kelahiran Rasulullah, kaum muslimin mengadakan peringatan maulid Nabi Muhammad SAWW.

Oleh karena itu layak jika kemudian diberi balasan dan ganjaran kebaikan. Hal ini mengingat bahwa amalan mukmin tentu saja lebih bernilai dari amalan seorang musyrik seperti Abu Lahab.


[1] Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman, al-Hawi li al-Fatawa, jil:1, hal: 196-197, cet: Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, 1982 M.

[2] Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman, al-Hawi li al-Fatawa, jil:1, hal: 197, cet: Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, 1982 M.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *