Tuduhan Ghuluw Kepada Syiah (2)

  • Whatsapp

MUSLIMMENJAWAB.COM – Adanya riwayat yang bercerita mengenai keutamaan Imam Ali as. sebagai pembagi neraka dan surga, dijadikan dalih oleh sebagian orang dalam menilai Syiah sebagai kelompok yang berlebihan atau ghuluw dalam keyakinan mereka terhadap para Imam Ahlulbait, khususnya dalam kasus ini adalah Imam Ali as.

Riwayat tersebut dalam kitab-kitab yang ada terkadang muncul dari lisan Nabi secara langsung, atau terkadang dari lisan Imam Ali sendiri. Alhasil dari keduanya menjelaskan sosok Imam Ali sebagai pembagi neraka dan surga.

Bacaan Lainnya

Dalam menanggapi ini tentunya kita perlu meninjau dan mengetahui asal-muasal riwayat tersebut. Dan ternyata setelah menelusuri kitab-kitab yang ada, kasus ini bukanlah sebuah klaim sepihak, sebagaimana riwayat-riwayat tersebut muncul dalam kitab-kitab Syiah seperti Biharul Anwar, Amali Syekh Shaduq atau Syekh Thusi, dll, namun sama halnya demikian dalam literatur Ahlu Sunnah pun dapat kita temui riwayat serupa atau yang memiliki kandungan ke arah itu.

Diantaranya seperti di bawah ini:

…و أنه قسيم النار، يدخل أولياؤه الجنة و أعداؤه النار

“…dan bahwasannya ia (Ali bin Abi Thalib) adalah pembagi neraka, orang-orang yang menolongnya akan masuk surga dan para musuhnya (masuk) neraka.”[1]

Bahkan keterangan ini pun dicatat dalam beberapa kitab bahasa seperti Lisanul Arab, jilid 12, halaman 479, Tajul ‘Arus, jilid 17, halaman 569, Al-Faiq Fil Gharibil Hadist, jilid 3, halaman 97 dan An-Nihayah Fi Gharibil Hadist Wal Atsar, seperti berikut ini:

و في حديث علي “أنا قسيم النار” أراد أنّ الناس فريقان: فريق معي، فهم على هدى، وفريق عليّ، فهم على ضلال، فنصف معي في الجنة و نصف عليّ في النار

“Dan dalam perkataan Ali ‘Aku adalah pembagi neraka’ ia bermaksud (menjelaskan) bahwa manusia terbagi dua kelompok: satu kelompok bersamaku, mereka (berada) dalam hidayah, dan satu kelompok yang menentangku, dan mereka (berada) dalam kesesatan, maka setengahnya bersamaku di surga dan setengahnya yang menentangku di neraka.”[2]

Ganji As-Syafi’i dalam kitabnya menukil dari Muhammad bin Manshur At-Thusi yang menyatakan:

كنا عند أحمد بن حنبل، فقال له رجل: يا أبا عبد الله! ما تقول في هذا الحديث الذي يروي: أن عليا قال: «أنا قسيم النار»؟ فقال أحمد: و ما تنكرون من هذا الحديث؟ أليس روينا إن النبي صلي الله عليه و سلم قال لعي: «لا يحبك إلا مؤمن و لا يبغضك إلا منافق»؟ قلنا: بلي، قال: فأين المؤمن؟ قلنا: في الجنة، قال: فأين المنافق؟ قلنا: في النار، قال: فعلي قسيم النار

“Kami berada di dekat Ahmad bin Hanbal, lalu seorang lelaki berkata padanya: ‘Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu tentang hadis yang diriwayatkan bahwasannya Ali berkata: Aku adalah pembagi neraka?’, kemudian Ahmad berkata: ‘Apa yang kalian ingkari dari hadist ini? Bukankah telah diriwayatkan pada kita bahwa Nabi saw. berkata pada Ali: Tidak mencintaimu kecuali mukmin dan tidak membencimu melainkan munafik,? Kami berkata: ‘tentu’, ia berkata: ‘Maka dimanakah mukmin?’, Kami menjawab: ‘Di surga’, ia berkata: ‘Dimanakah munafik?’, kami menjawab: ‘Di neraka’, ia berkata: ‘Maka Ali adalah pembagi neraka.’”[3]


[1] As-Syifa Bit Ta’rif Huquq Al-Mustafa, hal: 338-339, Darul Kutubul Ilmiyah, Beirut.

[2] An-Nihayah Fi Gharibil Hadist Wal Atsar, jil: 4, hal 61, Muassasah Tarikh al-Arabi.

[3] Kifayatu Thalib, hal: 71-72.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 Komentar