MUSLIMMENJAWAB.C0M – Salah satu syubhat yang dituduhkan ke mazhab Syiah adalah, bahwa kaum Syiah lebih mengutamakan Karbala daripada tempat suci lainnya, seperti Ka’bah. Tuduhan tersebut, bagi mereka sudah sampai pada puncak ghuluw.
Pertanyaannya, apakah benar Syiah lebih mengutamakan Karbala daripada Ka’bah, bahkan menjadikannya sebagai kiblat orang-orang Syiah? Untuk mengetahui jawaban dari syubhat tersebut, penulis akan membawakan beberapa dalil.
Pertama, bagi orang Syiah Karbala memang tempat yang memiliki kemuliaan dan keutamaan. Tak hanya itu, tanahnya juga memiliki kasiat tersendiri, sehingga mampu menyembuhkan beberapa penyakit.
Terkait dengan tanah Karbala yang bisa menjadi obat, ada baiknya apabila kita menyimak sebuah pengakuan dari ulama Ahlusunnah, Abu Thahir Salafi Asbahani. Ia menulis di dalam sebuah kitab berjudul Ath-Tuyuriyat, yang berbunyi sebagai berikut.
سمعت احمد یقول سمعت أبا بکر یقول : سمعت الخلدی کان بی جرب عظیم کثیر قال فمسحت بتراب قبر الحسین قال فغفوت فانتبهت ولیس علی منه شئ

“Aku mendengar dari Ahmad bahwa ia berkata, ‘Aku mendengar dari Aba Bakr ia berkata, ‘Aku mendengar dari Khuldi ia berkata, ‘Aku memiliki penyakit kudis yang cukup parah. Lalu kuoleskan tanah dari kuburan Al-Husain (tanah Karbala) di atasnya. Kemudian aku tidur. Setelah bangun, tidak ada sedikit pun bekas luka (kudis) itu.’”[1]
Meski Karbala dan tanahnya memiliki keutamaan, bukan berarti orang Syiah memandang rendah Ka’bah dan tempat suci lainnya, apalagi menjadikannya sebagai kiblat, sebagaimana yang dituduhkan kepada orang-orang Syiah.
Di pembahasan selanjutnya, kita akan menyinggung soal tanggapan ulama Syiah terkait kedudukan Ka’bah di dalam mazhab mereka. Mazhab Syiah, sebagaimana mazhab Islam lainnya, sama-sama memuliakan Ka’bah.
Bahkan, Ka’bah di mata para Imam mereka sangatlah dihormati dan disucikan. Hal itu dapat kita lihat di dalam aktifitas keagamaan mereka. Mulai dari salat, baik yang wajib maupun sunnah, salat jenazah dan prosesi penguburan jenazah, hingga menyembelih hewan kurban, semua mereka lakukan dengan menghadap ke arah kiblat (Ka’bah).
Melihat hal di atas, sejatinya sudah cukup untuk membuktikan kepada mereka, bahwa Karbala bukanlah kiblatnya orang-orang Syiah. Namun, meski begitu, sebagai penegasan, di sini penulis juga menghadirkan pandangan ulama Syiah terkait Ka’bah, seperti yang sudah disinggung di atas.
Syekh Thusi, salah satu ulama besar Syiah terkait dengan Ka’bah ia berkata sebagai berikut.
معرفة القبلة واجبة للتوجه إليها في الصلوات، واستقبالها عند الذبيحة، وعند احتضار الأموات ودفنهم. والتوجه إليها واجب في جميع الصلوات فرائضها وسننها مع التمكن وعدم الاعتذار. والقبلة هي الكعبة.
“Mengetahui kiblat adalah wajib untuk melaksanakan salat, penyembelihan hewan, orang ketika sakaratul maut dan penguburan mayat. Dan menghadap ke arah kiblat adalah wajib di seluruh salat, baik yang wajib maupun yang sunnah dengan cara yang memungkinkan dan tanpa ada halangan. Yang dimaksud kiblat adalah Ka’bah.”[2]


Dari pemaparan di atas, maka jelaslah, bahwa tuduhan kalau mazhab Syiah lebih mengutamakan Karbala daripada Ka’bah dan menjadikan Karbala sebagai kiblat mereka, tentu dengan sendirinya terbantahkan dengan pernyataan Syekh Thusi yang merupakan ulama besar Syiah. Pernyataan itu pula, sejatinya telah menggugurkan tuduhan mereka yang menganggap Syiah sebagai ghuluw, lantaran berlebihan dalam menghormati Karbala.
[1] Ath-Tayuriyat, Abu Tahir Salafi Asbahani, hal, 912
[2] Syekh Thusi, An-Nihayah fi Mujarradil Fikh wal Fatawa. Hal. 62. Penerbit Darul Maktabah-Beirut.







