Membaca Pendapat Syekh Syihabbuddin Alusi tentang Tahrif Al-Quran

MUSLIMMENJAWAB.COM – Di dalam lembaran al-Quran tertulis firman Allah yang mengatakan tentang ketidakmampuan manusia dan jin menciptakan ayat-ayat yang serupa dengan al-Quran. Artinya, al-Quran adalah satu-satunya kitab Allah yang tidak ada yang mampu menciptakannya, kecuali hanya Allah semata.

Dalam hal itu, secara gamblang Allah membeberkan firman-Nya di dalam surah Al-Isra’ yang berbunyi sebagai berikut.

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.’” (QS.Al-Isra’: 88).

Berkaca dari ayat di atas, ada yang menarik untuk kita soroti bersama, yaitu pendapat Syekh Sihabbuddin Alusi. Sebelum membahas pendapatnya, mari sejenak kita berkenalan telebih dahulu dengan sosoknya.

Siapa itu Sihabbuddin Alusi? Iya, tokoh yang nama lengkapnya Sihabbuddin Mahmud bin Abdullah Alusi itu adalah seorang ulama besar bermazhab Sunni. Ia lahir di Baghdad, Irak pada 1802 M.

Sependek yang penulis tahu tentangnya, ia merupakan sepesialis di bidang ilmu fikih (mazhab Syafi’i), sastra Arab, mufasir dan pernah menjadi mufti Irak pada abad ketiga belas Hijriah. Yang menjadi titik fokus penulis di sini, ia adalah penulis kitab tafsir Ruhul Ma’ani.

Di dalam kitab itu, ia menuliskan pendapatnya di dalam bab tahrif al-Quran yang berbunyi sebagai berikut.

أن القرآن غیر خارج عن کلام العرب وما من أحد من بلغائهم إلا وقد کان مقدورا له الإتیان بقلیل من مثل ذلک والقادر على البعض قادر على الکل.

 “Sesungguhnya al-Quran tidak keluar dari ucapan orang-orang Arab. Tidak ada seorang pun dari sejumlah muballigh (penceramah-Arab), kecuali mampu menciptakan sedikit dari ayat yang menyerupai al-Quran. Dan seseorang yang yang mampu menciptakan ayat serupa dengan ayat al-Quran, maka ia layaknya orang yang mampu menciptakan seluruh al-Quran.”[1]

Kalau kita pikir lebih dalam, tentu pendapat Syekh Alusi tidak berbanding lurus dengan firman Allah yang penulis tulis di mukaddimah tulisan ini. Maka, dengan begitu pendapatnya jelas tertolak. Sebab, hanya Allah-lah yang mampu menciptakan al-Quran. Lebih dari itu, pendapatnya juga agaknya mengacu pada tahrif al-Quran.


[1] Ruhul Ma’ani, Sihabbdudin Alusi, juz 1, hal. 27, penerbit: Darul Ahya’ at-Turast.

Related posts

Leave a Reply