Sujud di Atas Tanah Bid’ah atau Sunnah?

MUSLIMMENJAWAB.COM Salah satu persoalan yang masih hangat diperdebatkan hingga saat ini adalah masalah alas yang digunakan untuk sujud dalam shalat. Dimana mayoritas kaum muslimin saat ini menggunakan sajadah atau karpet sebagai alas untuk menunaikan ibadah wajib tersebut.

Berbeda pandangan dengan kelompok diatas, sebagian lain melihat bahwa sujud itu harus dilakukan diatas permukaan bumi seperti tanah, batu dan apa-apa yang tumbuh dari bumi selain dari yang dimakan dan dikenakan sebagai pakaian, dan inshaAllah akan lebih jelas lagi dalam pembahasan-pembahasan berikutnya.

Bacaan Lainnya

Oleh sebab itu persoalan ini menjadi polemik di kalangan kaum muslimin dan menimbulkan banyak pertanyaan; Apakah hal tersebut dibenarkan dalam syariat? Apakah hal itu adalah sesuatu yang baru sehingga layak disebut bid’ah? Atau seperti apakah sebenarnya sujud yang diajarkan Nabi SAW? Berangkat dari sini, perlu kiranya kita membuka kembali lembaran sejarah dan riwayat terkait persoalan tadi.

Dalam pembahasan sebelumnya, kita telah berbicara mengenai beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi SAW melakukan sujudnya di atas tanah atau batu. Kali ini kita akan melihat beberapa riwayat lain yang masih berkaitan dengan persoalan ini.

Sahabat Nabi yang tidak sujud kecuali di atas tanah

وَعَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ كَانَ لَا يُصَلِّي أَوْ لَا يَسْجُدُ إِلَّا عَلَى الْأَرْضِ

Dari Abu Ubaidah bahwa Ibnu Mas’ud tidak melakukan shalat atau bersujud kecuali di atas (permukaan) bumi.

 (Majma az-Zawaid, jil: 2, hal: 57, Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut)

Sebagian sahabat seperti Masruq bin al-Ajda’ membawa sesuatu seperti turbah (tanah yang dicetak sebagai alas sujud) pada saat ini, ia membawanya kemana-mana bahkan ketika safar naik kapal.

قال: أخبرنا مسلم بن إبراهيم قال: حدّثنا قرّة بن خالد قال: حدّثنا محمد قال: كان مسروق إذا خرج يخرج بلبنة يسجد عليها في السفينة

Ia berkata: “Telah mengabarkan pada kami Muslim bin Ibrahim, berkata: ‘Telah mengabarkan pada kami Qurrah bin Khalid, berkata:’Telah mengabarkan pada kami Muhammad, berkata: ‘Masruq, ketika ia keluar, maka dia selalu keluar dengan membawa Labinah (tanah kering seperti bata) dan sujud di atasnya dalam perahu.’’”

(at-Thabaqat al-Kubra, jili: 6, hal: 14, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut)

Sujud Rasulullah di atas sajadah yang terbuat dari tikar

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Said al-Khudri:

حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَرَأَيْتُهُ يُصَلِّي عَلَى حَصِيرٍ يَسْجُدُ عَلَيْهِ

Telah bercerita padaku Abu Said al-Khudri bahwasannya ia menghampiri Rasulullah SAW, ia berkata: “Aku melihat beliau (SAW) shalat di atas tikar dan bersujud di atasnya.”

(Shahih Muslim, jil: 1, hal: 458, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut)

Begitu pula dengan Bukhari dan Muslim menukil dari Ummul Mukminin Maymunah:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ

Nabi Shallalahu alaihi wa sallam senantiasa melakukan shalat di atas tikar. (Shahih Bukhari, jil: 1, hal: 101, Shahih Muslim, jil: 2, hal: 128)

Apa yang dimaksud dengan “الخمرة” pada masa itu?

Yang dimaksud dengan “الخمرة” sebagaimana dikatakan oleh ulama Syiah ataupun Sunni, adalah sebuah sajadah yang terbuat dari tikar.

قال أبو عبيد: الخمرة شيء منسوج يعمل من سعف النخل و يرمل بالخيوط وهو صغير على قدر ما يسجدعليه المصلّي أو فوق ذلك فإن عظم حتى يكفي الرجل لجسده كله في صلاة أو مضجع لو أكثر من ذلك فحينئذ حصير و ليس بخمرة

Abu Ubaid berkata: “Al-Khumrah adalah anyaman yang terbuat dari daun kurma yang diikat dengan benang dan ukurannya kecil seukuran tempat sujudnya mushalli atau lebih besar lagi, apabila ukurannya besar sehingga cukup untuk seluruh badan ketika shalat atau ketika berbaring, jika lebih besar dari itu maka disebut hashir / tikar.” (Gharib al-Hadits, Ibnu salam, jil: 1, hal: 276)

Az-Zubaidi dalam Taj al-A’rus mencatat:

يُقَال: صَلَّى فلانٌ على الخُمْرَة، وَهِي (حَصِيرَةٌ صَغِيرَة) تُنْسَج (من السَّعَف) ، أَي سَعَفِ النَّخْل وتُرَمَّل بالخُيُوطُ

Dikatakan: “Seseorang shalat di atas al-Khumrah.” Dan (al-Khumrah) adalah tikar kecil yang terbuat dari daun kurma kemudian diikat dengan benang.

(Taj al-Arus, jil: 11, hal: 213)

Perintah Nabi SAW untuk sujud di atas tanah

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwasannya Nabi SAW pernah menyuruh beberapa sahabatnya yang menghindari sujud di atas tanah untuk sujud di atasnya.

عَبْدُ الرَّزَّاقِ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ قَالَ: رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُهَيْبًا يَسْجُدُ كَأَنَّهُ يَتَّقِي التُّرَابَ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَرِّبْ وَجْهَكَ يَا صُهَيْبُ

Dari Ma’mar dari Khalid al-haddza, berkata: “Nabi SAW melihat Shuhaib sedang sujud seolah-olah ia enggan terkena tanah, maka Nabi berkata padanya: ‘Tempelkanlah wajahmu ke tanah wahai Shuhaib!’” (Mushannaf Abdur Razzaq, jil: 1, hal: 392)

Begitu pula riwayat dari Ummu Salamah:

حَدِيثِ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غُلَامًا لَنَا يُقَالُ لَهُ أَفْلَحُ إِذَا سَجَدَ نَفَخَ فَقَالَ يَا أَفْلَحُ تَرِّبْ وَجْهَكَ

Ummu Salamah berkata: “Nabi SAW melihat budak milik kami yang bernama Aflah, ketika ia sujud, ia menjaga jarak dari tanah. Nabi SAW berkata padanya: ‘Wahai Aflah tempelkanlah wajahmu ke tanah!’”

(Fath al-Bari, jil: 3, hal: 85, Dar al-Ma’rifah, Beirut)

Dari serangkaian keterangan di atas maka jelaslah bagi kita bahwa sujud di atas tanah bukanlah persoalan baru atau bid’ah, bahkan itulah cara yang dulu sering dilakukan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar