Menangisi Kesyahidan Imam Husain AS adalah Sunnah Nabi SAWW (2)

MUSLIMMENJAWAB.COM – Bisa kita bayangkan, secara fitrah, manusia akan bersedih atau bahkan menangis saat orang-orang yang ia cintai meninggalkannya untuk selamanya (baca: wafat), tak terkecuali dengan syahidnya cucu nabi, Imam Husain as.

Tak kita mungkiri, pribadi yang tak berseberangan dengan fitrah dan akal sehatnya—kalaupun tak sampai keluar air mata—minimal bersedih saat mendengar kisah pembantaian Imam Husain di padang Karbala.

Dan hal di atas adalah perkara yang wajar belaka. Yang tak wajar ialah ketika perbuatan menangisi Imam Husain dianggap bid’ah dan sesat. Bagi penulis, menangisi Imam Husain bukan soal bid’ah atau sesat.

Kembali ke pembahasan awal, bahwa menangisi Kesyahidan Imam Husain adalah perkara fitrah dan bahkan kesucian hati kita. Lebih dari itu, nabi pun sudah sedari dulu, bahkan, ia menangis dan meratap sebelum kesyahidan cucu tercintanya itu.

Momen nabi bersedih dan menangis itu terekam dengan gamblang di dalam kitab-kitab Sunni yang sebagian sudah dibahas di dalam tulisan sebelumnya. Ibnu Thahman, ulama besar dan ahli hadis Sunni membeberkan kejadian itu di dalam kitabnya: Masyaikhah Ibnu Thamhan.

Di dalam kitab tersebut, ia menulis sebagai berikut.

عَنْ عَبَّادِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ هَاشِمِ بْنِ هَاشِمٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ وَهْبٍ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَیْهِ وَسَلَّمَ بَیْتِیَ فَقَالَ: «لَا یَدْخُلُ عَلَیَّ أَحَدٌ فَسَمِعْتُ صَوْتًا، فَدَخَلْتُ، فَإِذَا عِنْدَهُ حُسَیْنُ بْنُ عَلِیٍّ وَإِذَا هُوَ حَزِینٌ، أَوْ قَالَتْ: یَبْکِی، فَقُلْتُ: مَا لَکَ تَبْکِی یَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: أَخْبَرَنِی جِبْرِیلُ أَنَّ أُمَّتِی تَقْتُلُ هَذَا بَعْدِی فَقُلْتُ وَمَنْ یَقْتُلُهُ؟ فَتَنَاوَلَ مَدَرَةً، فَقَالَ:» أَهْلُ هَذِهِ الْمَدَرَةِ تَقْتُلُهُ “.

Dari Abbad bin Ishak, dari Hasyim bin Hasyim dari Abdullah bin Wahab dan dari Ummu Salamah, bahwa ia berkata, “Rasulullah Saw. memasuki rumahku.”

“Tiada seorang pun yang menjumpaiku,” kata Rasulullah saw.

“Dan aku mendengar suara, lalu aku masuk rumah. Di sisi Nabi ada Husain bin Ali bin Abi Thalib. Dan ia (Nabi Saw) terlihat sedih,” kata Ummu Salamah.

“Nabi menangis,” katanya lagi.

“Apa yang membuatmu menangis, Wahai Rasulullah?” Tanya Ummu Salamah.

“Jibril  telah mengabarkan kepadaku, bahwa umatku setelahku akan membunuh Husain,” kata nabi.

“Siapa yang akan membunuhnya?” Tanya Ummu Salamah.

“Penghuni bumi ini yang akan membunuhnya,” jawab Rasulullah saw sembari mengambil sebongkah tanah (itu).

Masyikhah Ibn Thahman, Ibrahim bin Thahman, hal. 55, cetakan: Damaskus (1403 H/1983).

Dari riwayat di atas, kita mendapatkan sebuah penegasan, bahwa selain karena fitrah, menangisi Imam Husain telah digariskan dalam Sunnah Nabi Saw. Jadi, tiada lagi sebuah alasan untuk menyanggah, apalagi melarang orang lain untuk menangisi Kesyahidan cucunda nabi Saw

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 comments

  1. Simply want to say your article is as surprising. The clearness for your publish is simply nice and i can think you are a professional in this subject. Well with your permission allow me to take hold of your RSS feed to stay up to date with approaching post. Thank you one million and please continue the rewarding work.

  2. One of the leading academic and scientific-research centers of the Belarus. There are 12 Faculties at the University, 2 scientific and research institutes. Higher education in 35 specialities of the 1st degree of education and 22 specialities.

  3. I love your blog.. very nice colors & theme. Did you design this website yourself or did you hire someone to do it for you? Plz reply as I’m looking to create my own blog and would like to know where u got this from. thanks