Riwayat-Riwayat yang Menafikan Adanya Tambahan Setelah 12 Imam

MUSLIMMENJAWAB.COM – Klaim yang dinyatakan oleh kelompok Ahmad Hasan Bashri terkait adanya pelanjut setelah Imam ke-12, Al-Mahdi Afs yang bersandar pada hadis wasiat menuai berbagai kritikan dan pertanyaan, sebagaimana hal tersebut telah kita bahas dalam tulisan-tulisan yang lalu.

Tidak hanya itu ternyata ada riwayat-riwayat lain yang bisa kita temukan, yang mana riwayat-riwayat tersebut secara jelas menafikan keberadaan tambahan imam ataupun pelanjut yang mewarisi pemerintahan dan otoritas mereka. Seperti dalam beberapa riwayat berikut ini:

Read More

Pertama,

عَنْ عَبْدِ اَلْعَزِيزِ اَلْقَرَاطِيسِيِّ قَالَ قَالَ أَبُو عَبْدِ اَللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : اَلْأَئِمَّةُ بَعْدَ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ اِثْنَا عَشَرَ نُجَبَاءُ مُفَهَّمُونَ مَنْ نَقَصَ مِنْهُمْ وَاحِداً أَوْ زَادَ فِيهِمْ وَاحِداً خَرَجَ مِنْ دِينِ اَللَّهِ وَ لَمْ يَكُنْ مِنْ وَلاَيَتِنَا عَلَى شَيْءٍ.[1]

Dari Abdul Aziz Al-Qarathisi berkata: Abu Abdillah (Imam Jafar As-Shadiq As) berkata: “Para imam setelah nabi kita Saw ada 12 orang pilihan yang memperoleh pemahaman (dari Allah Swt), barangsiapa mengurangi satu dari mereka ataupun menambahkannya maka ia telah keluar dari agama Allah dan tidak mendapat apapun dari wilayah kami (Ahlul Bait).”

Dalam riwayat ini bahkan orang yang mengurangi atau menambah jumlah para imam tersebut dianggap telah keluar dari Agama Allah Swt.

Kedua,

عَنْ سَدِيرٍ اَلصَّيْرَفِيِّ قَالَ: دَخَلْتُ أَنَا وَ اَلْمُفَضَّلُ بْنُ عُمَرَ وَ أَبُو بَصِيرٍ وَ أَبَانُ بْنُ تَغْلِبَ عَلَى مَوْلاَنَا أَبِي عَبْدِ اَللَّهِ اَلصَّادِقِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ… وَ أَمَّا غَيْبَةُ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَإِنَّ اَلْيَهُودَ وَ اَلنَّصَارَى اِتَّفَقَتْ عَلَى أَنَّهُ قُتِلَ فَكَذَّبَهُمُ اَللَّهُ جَلَّ ذِكْرُهُ بِقَوْلِهِ: وَ مٰا قَتَلُوهُ وَ مٰا صَلَبُوهُ وَ لٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ  كَذَلِكَ غَيْبَةُ اَلْقَائِمِ فَإِنَّ اَلْأُمَّةَ سَتُنْكِرُهَا لِطُولِهَا فَمِنْ قَائِلٍ يَقُولُ إِنَّهُ لَمْ يُولَدْ وَ قَائِلٍ يَفْتَرِي بِقَوْلِهِ إِنَّهُ وُلِدَ وَ مَاتَ وَ قَائِلٍ يَكْفُرُ بِقَوْلِهِ إِنَّ حَادِيَ عَشَرَنَا كَانَ عَقِيماً وَ قَائِلٍ يَمْرُقُ بِقَوْلِهِ إِنَّهُ يَتَعَدَّى إِلَى ثَالِثَ عَشَرَ فَصَاعِداً وَ قَائِلٍ يَعْصِي اَللَّهَ بِدَعْوَاهُ أَنَّ رُوحَ اَلْقَائِمِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَنْطِقُ فِي هَيْكَلِ غَيْرِهِ…[2]

Dari Sadir As-Shairafi berkata: Aku bersama Mufaddhal bin Umar, Abu Bashir dan Aban bin Taghlib mendatangi Abu Abdillah As-Shadiq As “…Adapun keghaiban Isa As maka sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani telah sepakat bahwasannya ia telah terbunuh, kemudian Allah Swt mendustakan mereka dengan firman-Nya: ‘padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang menurut mereka menyerupai (Isa).’ Begitu pula keghaiban Al-Qa’im (Imam Mahdi Afs), sesungguhnya umat akan mengingkarinya (keghaibannya) disebabkan lamanya waktu keghaibannya, diantaranya ada orang yang berkata bahwa ia (Al-Mahdi) belum dilahirkan, ada juga orang yang berbohong dengan perkataannya bahwasannya ia (Al-Mahdi) telah dilahirkan dan telah mati, ada juga yang mengingkari (keberadaan Al-Mahdi) dengan perkataannya bahwasannya imam ke-11 (Imam Hasan Al-Askari) mandul (tidak memiliki keturunan, ada juga yang keluar agama dengan perkataannya bahwasannya (jumlah imam) sampai pada 13 orang bahkan lebih dan ada juga yang bermaksiat pada Allah Swt dengan dakwaannya bahwasannya ruh Al-Qa’im As berbicara dalam jasad yang lain.”

Di sini juga sama, secara jelas seperti apa dihukumi orang-orang yang salah dalam menilai Imam Mahdi atau pun menambah jumlah para imam tersebut.

Ketiga,

وَ عَنْ سُلَيْمِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ سَلْمَانَ اَلْفَارِسِيِّ عَنِ اَلنَّبِيِّ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: أَنَا وَ أَخِي وَ اَلْأَحَدَ عَشَرَ إِمَاماً مِنْ أَوْصِيَائِي إِلَى يَوْمِ اَلْقِيَامَةِ، كُلُّهُمْ هَادُونَ مَهْدِيُّونَ أَوَّلُ اَلْأَوْصِيَاءِ بَعْدَ أَخِي اَلْحَسَنُ، ثُمَّ اَلْحُسَيْنُ، ثُمَّ تِسْعَةٌ مِنْ وُلْدِ اَلْحُسَيْنِ…[3]

Dari Sulaim bin Qais, dari Salam Al-Farisi dari Nabi Saw, berkata: “Aku dan saudaraku (Imam Ali As) dan sebelas imam dari para washiku hingga hari kiamat, semuanya adalah pemberi petunjuk yang telah dihidayahi, washi pertama setelah saudaraku (imam Ali As) adalah Hasan, kemudian Husein, kemudian sembilan orang dari keturunan Husein…”

Dalam riwayat ini juga secara jelas Nabi Saw menggambarkan para imam setelahnya serta menyebut jumlah mereka yang berjumlah 12. Pertama adalah Imam Ali As, kemudian Imam Hasan As dan Imam Husein As serta 9 orang dari nasab Imam Husein.

Keempat,

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ : أَنَا سَيِّدُ اَلنَّبِيِّينَ وَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ سَيِّدُ اَلْوَصِيِّينَ وَ إِنَّ أَوْصِيَائِي بَعْدِي اِثْنَا عَشَرَ أَوَّلُهُمْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَ آخِرُهُمُ اَلْقَائِمُ.[4]

Dari Abdullah bin Abbas berkata: Rasulullah Saw berkata: “Aku adalah penghulu para nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah penghulu para washi, dan para washi setelahku ada 12 orang, yang pertama dari mereka adalah Ali bin Abi Thalib As dan yang terakhir dari mereka adalah Al-Qa’im.”

Pada riwayat ini dengan jelas Nabi menyebutkan bahwa para washinya berjumlah 12, diawali dengan Imam Ali dan diakhiri dengan Al-Qa’im (Imam Mahdi Afs).

Kelima,

حَدَّثَنَا فَضَالَةُ بْنُ أَيُّوبَ عَنْ أَبَانِ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ قَالَ: قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ عَلَيْهِ اَلسَّلاَمُ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ اَلسَّلاَمُ: يَا عَلِيُّ أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ثُمَّ أَنْتَ يَا عَلِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ثُمَّ اَلْحَسَنُ ثُمَّ اَلْحُسَيْنُ ثُمَّ عَلِيُّ بْنُ اَلْحُسَيْنِ ثُمَّ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ، ثُمَّ جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، ثُمَّ مُوسَى بْنُ جَعْفَرٍ، ثُمَّ عَلِيُّ بْنُ مُوسَى، ثُمَّ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ، ثُمَّ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، ثُمَّ اَلْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ، ثُمَّ اَلْحُجَّةُ بْنُ اَلْحَسَنِ اَلَّذِي تَنْتَهِي إِلَيْهِ اَلْخِلاَفَةُ وَ اَلْوِصَايَةُ وَ يَغِيبُ مُدَّةً طَوِيلَةً، ثُمَّ يَظْهَرُ وَ يَمْلَأُ اَلْأَرْضَ عَدْلاً وَ قِسْطاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْراً وَ ظُلْماً.[5]

Bercerita pada kami Fadhalah bin Ayyub dari Aban bin Utsman dari Muhammad bin Muslim berkata: berkata Abu Jafar As: berkata Rasulullah Saw kepada Ali bin Abi Thalib As: “Wahai Ali, aku lebih utama terhadap mukminin ketimbang diri-diri mereka, kemudian engkau wahai Ali lebih utama terhadap mukminin ketimbang diri-diri mereka, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Jafar bin Muhammad, kemudian Musa bin Jafar, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali, kemudian Al-Hujjah bin Hasan yang mana Khilafah (kekhalifahan) dan Wishayah (pewaris wasiat) akan berakhir padanya dan akan mengalami keghaiban dalam masa yang panjang kemudian akan muncul dan memenuhi bumi dengan keadilan dan kebajikan sebagaimana ia telah dipenuhi oleh ketidakadilan dan kezaliman.”

Dalam riwayat ini Nabi Saw menyebut para imam setelahnya secara satu persatu yang berjumlah 12 dan menyebut bahwa kekhilafahan dan ke-washi-an itu akan berakhir pada imam ke-12 atau Imam Mahdi Afs.

Keenam,

حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مَسْرُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا اَلْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَامِرٍ عَنِ اَلْمُعَلَّى بْنِ مُحَمَّدٍ اَلْبَصْرِيِّ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ اَلْحَكَمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ : إِنَّ خُلَفَائِي وَ أَوْصِيَائِي وَ حُجَجَ اَللَّهِ عَلَى اَلْخَلْقِ بَعْدِي اِثْنَا عَشَرَ أَوَّلُهُمْ أَخِي وَ آخِرُهُمْ وَلَدِي قِيلَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ وَ مَنْ أَخُوكَ قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ قِيلَ فَمَنْ وَلَدُكَ قَالَ اَلْمَهْدِيُّ اَلَّذِي يَمْلَؤُهَا قِسْطاً وَ عَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْراً وَ ظُلْماً وَ اَلَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ نَبِيّاً لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ اَلدُّنْيَا إِلاَّ يَوْمٌ وَاحِدٌ لَطَوَّلَ اَللَّهُ ذَلِكَ اَلْيَوْمَ حَتَّى يَخْرُجَ فِيهِ وَلَدِيَ اَلْمَهْدِيُّ فَيَنْزِلَ رُوحُ اَللَّهِ عِيسَى اِبْنُ مَرْيَمَ فَيُصَلِّيَ خَلْفَهُ وَ تُشْرِقَ اَلْأَرْضُ بِنُورِهِ وَ يَبْلُغَ سُلْطَانُهُ اَلْمَشْرِقَ وَ اَلْمَغْرِبَ.[6]

Telah bercerita pada kami Jafar bin Muhammad bin Masrur berkata: Telah bercerita pada kami Husein bin Muhammad bin Amir dari Al-Mualla bin Muhammad Al-Bashri dari Jafar bin Sulaiman dari Abdullah Al-Hakam dari ayahnya dari Said bin Jubair dari Abdullah bin Abbas berkata: Rasulullah Saw berkata: “Sesungguhnya para khalifah dan washiku serta para hujjah Allah atas makhluk-Nya setelahku ada 12 orang, yang pertama dari mereka adalah saudaraku (Imam Ali As) dan yang terakhir dari mereka adalah putraku.” Seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah saudaramu?” ia berkata: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu ditanyakan: “Dan siapa putramu?” ia berkata: “Al-Mahdi yang akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kebajikan sebagaimana ia telah dipenuhi oleh kerusakan dan kezaliman. Demi Dzat yang telah mengutusku dengan kebenaran sebagai nabi, seandainya tidak tersisa dari dunia kecuali satu hari maka senantiasa Allah akan memanjangkan hari itu hingga keluar putraku Al-Mahdi pada hari itu, kemudian turunlah Ruhullah Isa putra Mariam dan menunaikan shalat di belakangnya, dan bercahayalah bumi dengan cahayanya, dan pemerintahannya akan sampai ke timur dan barat (meliputi seluruh dunia).”

Di sini pun Nabi menjelaskan bahwa khalifahnya itu berjumlah 12, diawali dengan Imam Ali As dan diakhiri oleh putranya Al-Mahdi. Kemudian ia menyebutkan pengaindaian usia dunia ini dengan satu hari maka disitu ia berkata bahwa Allah pasti akan memanjangkan hari tersebut hingga muncul putranya, Sang Imam ke-12 yang akan memenuhi dunia dengan keadilan. Hal ini dari satu sisi menjelaskan pada kita bahwa pemerintahan Imam Mahdi ini merupakan pemerintahan terakhir dari para khalifah Nabi Muhammad Saw.

Riwayat-riwayat seperti ini, masih banyak dapat kita temukan dalam kitab-kitab hadis yang ada, yang mana kandungannya menafikan keberadaan pewaris wasiat Nabi melebihi jumlah 12 orang. Sementara itu hadis yang diangkat oleh kelompok Ahmad Hasan Bashri sangatlah sedikit dan memiliki banyak masalah dari berbagai sisinya seperti yang telah diulas dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Wallahu A’lam bis Shawab


[1] Al-Ikhtishah, jil: 1, hal: 233.

[2] Al-Ghaibah, jil: 1, hal: 167.

[3] Itsbatul Hudah bil An-Nushush wal Mu’jizat, jil: 2, hal: 247.

[4] Uyunul Akhbaril Ridha, jil: 1, hal: 64.

[5] Itsbatul Hudah bil An-Nushush wal Mu’jizat, jil: 2, hal: 234.

[6] Kamaluddin wa Tamamun Ni’mah, jil: 1, hal: 280.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. Wow, fantastic blog format! How lengthy have you been running a blog for?
    you make blogging glance easy. The whole glance of your website is great, as smartly as the content material!
    You can see similar here sklep internetowy