Benarkah Hisyam bin Hakam Adalah Penganut Tajsim?

MUSLIMMENJAWAB.COM – Pembahasan Tajsim sering kali dikaitkan dengan seorang tokoh yang berasal dari madzhab Syiah yang bernama Hisyam bin al-Hakam (133-179 H). Tidak diragukan lagi bahwa berdasarkan literatur sejarah Islam dan khususnya madzhab Syiah, ia merupakan salah satu sahabat terdekat dari imam Jafar al-Shadiq dan imam Musa al-Kadzim As yang kala itu berada pada abad kedua Hijriyah.

Ia juga merupakan tokoh besar sekaligus terbilang sebagai ulama yang diakui berwawasan luas serta pemahaman yang mendalam terlebih pada bidang ilmu kalam. Terbukti dari berbagai nukilan dan catatan yang bercerita tentangnya, bahwa ia kerap kali melakukan diskusi dan berdebat dengan tokoh-tokoh dan ulama-ulama yang lain pada masanya.

Read More

Namun cerita mengenainya tidak selalu bermuatan positif, ada juga berita yang beredar menyebutkan bahwa Hisyam adalah penganut Tajsim. Misalnya adalah pernyataan sebagian ulama yang dinukil oleh Nashir bin Abdullah al-Qaffari dalam kitab Ushul Madzhab al-Syiah al-Imamiyah al-Itsna Asyariyah.

Ibnu Taimiyah (661-728 H) berkata: “Orang pertama yang dikenal di dalam Islam yang mana ia berkata bahwa sesungguhnya Allah Swt itu adalah Jism (memiliki badan atau tubuh) adalah Hisyam bin al-Hakam.”

Abdul Qahir al-Baghdadi (961-1037 H) berkata: “Hisyam bin al-Hakam beranggapan bahwa sesembahannya (yakni Allah swt) adalah Jism yang memiliki batasan dan akhir dan bahwasannya Ia panjang, lebar serta dalam juga panjang-Nya seperti lebar-Nya…”

Ibnu Hazm (384-456) berkata: “Hisyam berkata bahwa tuhannya tujuh jengkal dengan jengkal diri-Nya.”[1]

Di sisi yang lain terdapat beberapa riwayat yang tercatat dalam kitab hadis yang menjadi salah satu rujukan utama madzhab Syiah yakni al-Kafi karya Syekh al-Kulaini, yang mengabarkan pernyataan Hisyam bahwasannya Allah Swt itu adalah Jism (memiliki badan atau tubuh). Seperti yang dapat dilihat pada tulisan ini.

Hal-hal inilah yang biasanya yang dijadikan dalil oleh sebagian orang dalam menghukumi sosok Hisyam bin al-Hakam sebagai seorang yang menganut akidah Tajsim, ditambah lagi masalah ini sering kali dijadikan alasan untuk memojokan madzhab Syiah, sebab Hisyam merupakan pribadi yang begitu identik dengan madzhab tersebut.

Namun dalam hal ini terdapat beberapa catatan yang layak untuk diperhatikan oleh kita sebelum menjustifikasi sosoknya sebagai seorang ahli Tajsim atau Tasybih. Catatan-catatan tersebut akan kami bahas pada tulisan-tulisan berikutnya.


[1] Al-Qaffari, Nashir bin Abdullah, Ushul Madzhab al-Syiah al-Imamiyah al-Itsna Asyariyah, hal: 529.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *