Syiah Punya Konsep Wilayatul Faqih, Ini Penjelasannya! (Bagian 1)

  • Whatsapp

MUSLIMMENJAWAB.COM – Siapa yang tak mengenal Syiah? Ya, salahsatu golongan dalam Islam yang meyakini akan kepemimpinan Ali as setelah wafatnya Rosulullah Saw. Yang membedakan Syiah dengan yang lainnya ialah mereka mempercayai bahwa urusan kepemimpinan Ilahi mutlak di tangan Allah Swt dan bukan berdasarkan keinginan dan pilihan manusia.

Ada yang menarik pada pembahasan kali ini, yaitu mengenai konsep Wilayatul Faqih yang bisa dibilang menjadi salah satu ciri khas dari Syiah “masa kini”. Konsep tersebut populer seiring dengan meledaknya revolusi Islam Iran yang dilakoni oleh Imam Khomeini tahun 1979. Kala itu Imam Khomeini berhasil mengusir antek Ameika yang pernah bercokol selama bertahun-tahun dari tanah airnya. Hingga saat ini negara Republik Islam Iran menjadi rival utama barat karena negara itu tidak mau tunduk pada mereka.

Bacaan Lainnya

Pengertian Wilayatul Faqih

Wilayah (ولاية) dalam bahasa arab diambil dari akar kata wali (ولي) bermakna pengatur, pengurus atau pengasuh.[1] Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia kata Wilayah yaitu kekuasaan, pemerintahan dan pengawasan. Adapun faqih (فقیه), secara etimologi Arab berasal dari kata fiqh (فقه) yang bermakna paham, mengerti, mengetahui.[2] Dalam kitab lisanul arabi maknanya lebih luas lagi, yaitu ilmu dan pengetahuan yang disertai dengan ketelitian dan melahirkan pemikiran.[3] Fikh (فقه) secar istilah bermakna pengetahuan dan pemahaman jeli dan akurat terhadap ilmu-ilmu agama dan hukum-hukum tuhan sehingga dapat mengeluarkannya dari sumber-sumber yang ada. Faqih merupakan bentuk subjek yang berarti seseorang yang ahli di bidang keilmuan islam dan hukum-hukum syari secara mendetail.

Maka Wilayatul Faqih secara sederhana berarti sebuah sistem pemerintahan atau wilayah yang kepemimpinannya di bawah kekuasaan seorang faqih yang berkompeten dalam urusan agama. Untuk mengetahui sedikit lebih dalam mengenai bagaimana konsep ini terbentuk, mari kita simak penjelasan berikut.

Imam Mahdi as dan masa keghaiban

Imam Mahdi As adalah seorang pembaharu yang dijanjikan akan muncul pada akhir zaman. Beliau merupakan keturunan Rosulullah Saw. Semua kaum muslimin tanpa terkecuali mempercai akan kebenaran Beliau as. Syiah berkeyakinan bahwa Imam Mahdi As merupakan Imam ke-12 dan telah lahir kemudian dighaibkan oleh Allah Swt. Berbeda dengan lainnya yang meyakini bahwa Beliau as belum lahir ke dunia. Syiah meyakini bahwa bumi ini tidak akan kosong dari utusan Tuhan. Maka setelah wafat Rosul Saw, ada Imam Ali as dan Sebelas keturunannya yang menjadi pengganti kepemimpinan umat.

Bisa dikatakan bahwa konsep Wilayatul Faqih muncul dari persoalan ini, yaitu kosongnya atau tidak hadirnya seorang imam suci di tengah-tengah umat. Untuk itu konsep Wilayatul Faqih menjadi pilihan tepat dalam hal ini. Konsep ini juga berdasar pada dalil-dalil dan argumentasi berikut ini.

Beberapa argumentasi Wilayatul Faqih

  1. Argumentasi akal

Memilih kualitas yang terdekat merupakan hukum akal. Untuk lebih jelasnya, jika kita membutuhkan sesuatu, namun dikarenakan beberapa hal sehingga sesuatu itu tidak tercapai, maka akal berkata carilah sesuatu yang menyerupai dengannya. Berikut ini rincian dari argumentasi di atas.

  • Manusia merupakan makhluk sosial
  • Dalam Kehidupan sosial selalu saja terdapat pertikaian di dalamnya
  • Untuk mengatasi hal itu, maka dibutuhkanlah aturan
  • Sebaik-baik aturan adalah aturan Allah Swt
  • Aturan butuh kepada sosok pelaksana, karena tujuannya adalah terelaisasinya aturan Ilahi
  • Sebaik-baik pelaksana adalah sosok maksum (manusia suci)

Disaat maksum tidak hadir di tengah umat maka siapakah yang pantas menjadi sosok pelksana aturan Ilahi?

Berdasarkan hal di atas maka akal berkata bahwa diperlukan adanya sosok yang mempunyai derajat dekat dengan maksum atau dengan kata lain orang terbaik diantara umat. Dari sini juga dapat disimpulkan bahwa jika maksum tidak hadir di tengah umat maka penyelesaian masalahnya tidak akan keluar dari 3 pilihan ini.

  1. Biarkan dan liburkan aturan Ilahi tanpa pelaksana
  2. Siapa saja boleh jadi pelaksanan aturan Ilahi, walaupun orang bodoh bahkan fasik atau dzalim
  3. Pilih seorang pelaksana aturan Ilahi dengan kriteria yang mendekati maksum atau orang terbaik di antara umat

Kesimpulannya, pilihan 1 dan 2 tertolak karena dua poin tersebut justru akan merusak kehidupan bersosial dan beragama. Maka pilihan ke 3 merupakan pilihan terbaik karena akal memberitahu bahwa orang yang mirip dengan maksum dan memiliki kriteria terbaik adalah orang yang layak menjalankan aturan Ilahi. Maka Wali faqih adalah solusi dari permasalahan tersebut.

Pada bagian ke 2 dari artikel ini, kita akan membahas Wilayatul Faqih dari sisi riwayat (Quran dan Hadis).

—————————

  1. Ibnu Mandzur, Lisan al-Arab, Jil. 15, Hal. 406
  2. Ibnu Fars, Mu’jam Maqayis al-Lugah, Jil. 4 Hal. 442
  3. Ibnu Mandzur, Lisan al-Arab, Jil. 10, Hal 305

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.